Bagaimana Cara Mendidik Anak, Agar Tumbuh Dengan Sehat

Catatan editor: Ibu muda selalu marah saat anak kecil bermain game. Jadi, bagaimana kita bisa mendidik anak-anak, membantu mereka menyingkirkan kebiasaan buruk, dan membimbing mereka untuk tumbuh dengan sehat dan bahagia? Silakan lihat kisah pertumbuhan Saudari Man Yi dan anaknya.

Ketika saya baru saja percaya kepada Tuhan pada tahun 2016, anak saya yang berumur 3 tahun setengah juga mengikut saya pergi menghadiri persekutuan dan belajar menyanyi lagu rohani firman Tuhan. Kadang saya juga menggunakan komputer untuk memutarkan cerita animasi Alkitab untuk anak tonton atau main beberapa game puzzle. Dengan ini anak saya bisa menambahkan pengetahuan tentang Alkitab dan juga menambahkan kecerdasannya. Ini amat bermanfaat bagi pertumbuhan mental dan fisiknya. Anak saya sangat patuh dan saya sangat bangga olehnya. Kemudian ketika anak saya ulang tahun umur 5 tahun, kakeknya memberinya satu iPad sebagai hadiah ulang tahun. Sejak itu, anak saya memegang iPad setiap hari untuk mendengarkan lagu, menonton cerita animasi dan juga menggunakannya untuk bermain game. Ketika saya melihat dia bermain dengan semangat, hati saya merasa khawatir. Game online sekarang beraneka ragam, anak saya masih kecil, jika dia main terlalu banyak game online ini, apa yang harus saya buat jika dia kecanduan dengan game online? Tampaknya saya harus membatasi waktu dia bermain game online. Setelah itu, setiap kali dia menggunakan iPad, saya akan mengajar dia apa yang boleh lihat dan apa yang tidak boleh dilihat. Tetapi selepas saya sibuk, saya tidak mempunyai waktu untuk menemaninya dan saya tidak tahu dengan hal dia bermain iPadnya.

Setelah beberapa waktu, saya menemukan bahwa anak saya selalu membuat gaya memegang senjata untuk menembak ayahnya. Saya merasa ada yang tidak benar. Ayahnya berkata bahwa anak laki-laki suka senjata, jadi saya pun tidak menganggap serius. Setelah beberapa waktu, ketika dia menonton iPad, dia selalu berbicara dengan dirinya sendiri dan berbicara dengan orang yang ada di dalam iPad. Dia tiba-tiba tertawa dan melakukan beberapa gaya yang aneh. Saya merasa heran dan ingin melihat apa yang dia tonton. Ketika dia lihat saya mendekatinya, dia terus mematikan iPad dan berkata, “Bu, ini adalah iPad saya, kamu tidak bisa melihatnya!” Setelah saya mendengar dia berkata seperti ini, saya semakin heran untuk melihat apa yang dia tonton baru-baru ini, jadi saya bertanya apakah dia mempunyai apa yang lucu, bolehkah saya melihatnya?

Setelah itu dia membuka iPadnya. Saya melihat ada beberapa permainan online tembak-menembak. Ternyata belakangan ini dia selalu main permainan ini. Pantas beberapa hari yang lalu dia selalu melakukan gaya menodongkan pistol ke arah ayahnya. Ketika dia melihat saya datang, dia mematikan iPad dan menghindari saya. Saya bertanya, tetapi dia tidak mengatakan dengan jujur. Bukankah mudah baginya untuk menjadi jahat jika ini terus berlanjut? Saya dengan marah berkata kepadanya, “Berikan saya iPad kamu. Saya berikan iPad kepadamu adalah untuk mempelajari hal-hal yang baik, bukannya untuk memainkan permainan online ini!” Lalu saya mengambil iPadnya. Saat ini, anak saya menangis dan berkata, “Ibuku tidak baik. Kakek membelikan iPad untukku, bukan untukmu. Kembalikan iPad padaku.” Melihat anak itu menangis dengan sangat sedih, saya juga merasa sakit hati. Tidak peduli bagaimana saya membujuknya dia tetap menangis, saya tidak ada cara lain dan mengembalikan iPad kepadanya, tetapi mengatakan kepadanya bahwa dia tidak boleh lagi main permainan online ini.

Setelah itu, saya menemukan bahwa dia masih bermain-main ketika dia pulang dari sekolah. Dia takut dimarahi oleh saya dan dia bersembunyi saat bermain. Jadi saya memintanya untuk memberi saya iPadya kepada saya dengan nada yang tegas. Ketika anak saya melihat saya mengambil iPad, dia menangis dan berkata, “Orang dewasa kamu ini selalu menipu orang. Kakek juga menonton TV setiap hari, dan Ayah juga main ponsel dan komputer. Kenapa kamu tidak memarahi mereka, kenapa hanya memarahi saya dan tidak membiarkan saya menonton, ini tidak adil! ” Saya semakin marah ketika membantah saya. Saya bersiap untuk mengajarinya, tetapi kemudian saya berpikir ini adalah kata-kata dalam hatinya. Apa yang dikatakan oleh dia ini juga benar. Kakek, paman dan suami memang selalu menonton TV dan bermain ponsel setiap hari. Mereka tidak punya waktu untuk menemani anak-anak atau memberikan anak-anak pengaruh yang baik. Saat ini, saya tidak ingin mengajarinya lagi. Saya mulai merenungkan diri saya sendiri, sebagai orang yang percaya pada Tuhan, saya menghadapi hal-hal ini dalam hidup juga ada niat baik Tuhan, saya harus belajar dari Tuhan.

Setelah saya memikirkan hal ini, hati saya merasa lebih tenang sedikit. Kemudian, saya kembali ke kamar saya dan berdoa kepada Tuhan: “Tuhan, tingkat pertumbuhan saya kecil dan saya tidak tahu bagaimana mendidik anak saya. Dia suka menonton permainan online yang melawan dan membunuh. Ketika saya melihat ini, saya akan memarahi dia, tapi dia tetap tidak berubah, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Tuhan, apa yang harus saya lakukan padanya, dan apa yang dapat saya lakukan untuk membimbingnya untuk mengikuti jalan yang benar? Tuhan, saya juga tidak mau selalu memarahi anak saya. Semoga Engkau membimbing saya supaya saya dapat mendidik anak-anak saya dengan benar dalam lingkungan seperti ini. ” Setelah berdoa, saya mengangkat kepala dan tiba-tiba melihat anak saya juga berlutut di sisi saya dan berkata, “Amin!” Saya sangat tersentuh dengan tindakannya. Saya ingat bahwa ketika saya bersikap buruk terhadap anak saya, anak saya tidak hanya tidak menurut, tetapi juga menentang saya. Sekarang saya berdoa kepada Tuhan tentang hal ini, dan Tuhan menggerakkan hati anak saya. Sikap anak saya juga berubah dan dia juga berdoa bersamaku, saat ini hati saya merasa jauh lebih nyaman.

Tiba-tiba saya teringat satu paragraf Firman Tuhan yang saya pernah baca: “Sebenarnya cukup sederhana. Engkau harus menjadi orang biasa dan tidak dikendalikan status. Perlakukan anak-anakmu, perlakukan mereka yang ada dalam keluargamu sendiri sama seperti engkau akan memperlakukan saudara-saudarimu. Walau engkau memiliki tanggung jawab dan hubungan secara daging, tetapi, posisi dan cara pandang yang engkau harus miliki tetap sama seperti kepada teman atau saudara-saudari biasa. Engkau tidak boleh berdiri di posisi orang tua, menahan mereka atau mengikat mereka atau berusaha dan mengendalikan segala sesuatu tentang mereka. Engkau harus memperlakukan mereka sebagai orang yang sederajat. Engkau harus membiarkan mereka melakukan kesalahan, mengatakan hal yang salah, melakukan tindakan yang kekanak-kanakan, melakukan hal bodoh. Tidak peduli apa yang terjadi, duduklah dan berbicaralah baik-baik dengan mereka dan carilah kebenaran. Dengan cara ini, engkau akan berbicara kepada mereka dengan sikap yang benar dan masalah akan diselesaikan. Apa yang engkau kesampingkan di sini? Engkau mengesampingkan kedudukan dan statusmu sebagai orang tua, mengesampingkan kecongkakanmu sebagai orang tua, dan mengesampingkan semua tanggung jawab yang menurutmu harus kautanggung sebagai orang tua; sebaliknya, engkau cukup melakukan yang terbaik yang kaubisa dalam hal tanggung jawab sebagai saudara-saudari biasa.”

Banyak orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan dan secara penampilan mereka terlihat sangat rohani, tetapi dalam hal cara pandang dan sikap orang tua terhadap anak-anak dan anak-anak terhadap orang tua, mereka tidak tahu cara menerapkan aspek kebenaran ini dan prinsip-prinsip apa yang harus diterapkan dalam perkara ini dan cara menanganinya. Di mata orang tua, orang tua selalu orang tua dan anak-anak selalu anak-anak. Oleh karena itu hubungan antara anak-anak dan orang tua menjadi sangat sulit untuk ditangani. Banyak persoalan yang benar-benar diakibatkan oleh orang tua yang menolak beranjak dari status mereka sebagai orang tua. Mereka selalu memandang diri mereka sebagai orang tua, yang dituakan, dan mereka berpikir: Anak-anak harus selalu mendengarkan orang tua mereka dan fakta ini tidak akan pernah berubah—yang membuat anak-anak menentang mereka. Cara pandang seperti ini membuat kedua belah pihak kacau, lelah, hancur. Bukankah ini adalah manifestasi dari seseorang yang tidak memahami kebenaran? Ketika orang-orang tidak memahami kebenaran, mereka selalu dikendalikan oleh status dan bagaimana mereka tidak menderita sebagai hasilnya? Dalam kasus-kasus seperti itu, bagaimana melakukan kebenaran? (Dengan menyangkal dirimu sendiri.) Apa artinya menyangkal diri? Dengan sudut pandang dan sikap seperti apa seharusnya engkau memperlakukan perkara ini untuk benar-benar menyangkal diri? Bagaimana engkau melakukan penyangkalan diri ini? Sebenarnya cukup sederhana. Engkau harus menjadi orang biasa dan tidak dikendalikan status. Perlakukan anak-anakmu, perlakukan mereka yang ada dalam keluargamu sendiri sama seperti engkau akan memperlakukan saudara-saudarimu. Walau engkau memiliki tanggung jawab dan hubungan secara daging, tetapi, posisi dan cara pandang yang engkau harus miliki tetap sama seperti kepada teman atau saudara-saudari biasa. Engkau tidak boleh berdiri di posisi orang tua, menahan mereka atau mengikat mereka atau berusaha dan mengendalikan segala sesuatu tentang mereka. Engkau harus memperlakukan mereka sebagai orang yang sederajat. Engkau harus membiarkan mereka melakukan kesalahan, mengatakan hal yang salah, melakukan tindakan yang kekanak-kanakan, melakukan hal bodoh. Tidak peduli apa yang terjadi, duduklah dan berbicaralah baik-baik dengan mereka dan carilah kebenaran. Dengan cara ini, engkau akan berbicara kepada mereka dengan sikap yang benar dan masalah akan diselesaikan. Apa yang engkau kesampingkan di sini? Engkau mengesampingkan kedudukan dan statusmu sebagai orang tua, mengesampingkan kecongkakanmu sebagai orang tua, dan mengesampingkan semua tanggung jawab yang menurutmu harus kautanggung sebagai orang tua; sebaliknya, engkau cukup melakukan yang terbaik yang kaubisa dalam hal tanggung jawab sebagai saudara-saudari biasa.”

Firman Tuhan membuat saya mengerti bahwa jika ingin mendidik anak dan mencapai hasil yang baik, pertamanya harus berdiri pada status yang sama dengan anak dan berkomunikasi dengan mereka dengan tenang. Anda tidak boleh memaksa anak-anak untuk mendengarkan arahanmu dengan status orang tua. Ini tidak hanya akan gagal untuk mencapai hasil yang baik, tetapi akan membuat anak semakin merasa tidak nyaman. Terpikir anak saya itu baru berusia lima tahun. Dia masih muda dan tidak mengetahui hal apapun. Dia tidak bisa membedakan antara hal negatif dan positif. Itu normal baginya untuk bermain permainan video game tanpa pengendalian diri. Tetapi saya tidak dapat memperlakukannya dengan baik, dan saya masih menggunakan status sebagai seorang ibu untuk membatasi, memaksa, dan menahan, bahkan memarahi serta meminta dia untuk mendengarkan saya. Ini menyebabkan dia tidak hanya tidak mendengarkan saya, malah bersembunyi untuk bermain permainan game. Sekarang firman Tuhan telah memberikan saya jalan penerapan. Saya perlu mengesampingkan status sebagai orang tua dan berkomunikasi dengan anak saya dengan sabar. Saya juga dapat membimbingnya melalui bersekutu dengan kebenaran dan memberi tahu dia bahwa bermain game adalah cara iblis untuk merusakkan manusia, dan Tuhan tidak menyukai ini. Setelah itu, saya menurut firman Tuhan dan meletakkan status dan posisi sebagai seorang orang tua serta memperlakukannya seperti saudara kecil, dan berdiri di status yang sejajar untuk berkomunikasi dengannya. Saya tidak perlu menggunakan nada seperti memaksa, menekan, dan keras untuk menuntut dia. Saya belajar untuk mendengarkan suara hati anak saya.

Setelah itu, saya berkata kepadanya dengan nada bernegosiasi: “Sayang, kita adalah orang yang percaya pada Tuhan. Kakek dan Ayah belum percaya pada Tuhan. Mereka bermain ponsel ketika mereka dicobai oleh iblis. Iblis juga memperalatkan kakek dan ayah supaya kamu menonton TV dan main komputer dan juga menggunakan game online ini untuk menarik kamu supaya kamu main lebih banyak game, dan akhirnya jatuh kecanduan game. Pada saat itu Tuhan tidak akan menyukaimu lagi. Sekarang saya tidak mengizinkan kamu bermain game, tetapi kamu tidak mendengar, bahkan bertengkar dengan ibu. Iblis akan merasa gembira ketika iblis melihat ini. Di masa depan, ibu tidak akan memarahimu lagi. Jika kamu melihat ibumu marah lagi, kamu terus beri tahu saja pada ibu secara langsung, ibu akan berubah, dan kemudian itu kita membaca firman Tuhan bersama-sama, kita berdoa sama-sama untuk mengalahkan setan, bolehkah? ” Saat ini, anak saya seerti sudah mengerti sedikit dan mengangguk kepalanya serta memeluk saya.

Setelah mengalami hal sebelum ini, saya melihat bahwa anak saya tidak banyak bermain game lagi. Saya pikir setelah mengalami lingkungan ini, anak saya akan menjadi baik, tetapi kenyataan tidak seperti apa yang saya pikirkan. Ketika anak saya liburan musim panas, pada mulanya masih berdiskusi dengan saya bahwa dia hanya akan menonton satu atau dua film kartun atau bermain game puzzle selama setengah jam setiap hari, tapi kemudian hal pertama yang dia lakukan ketika dia bangun setiap hari adalah bermain iPad. Secara perlahan-lahan dia bermain semakin banyak. Tidak peduli bagaimana saya berbicara dengan dia, dia seperti tidak mendengarnya. Melihat bahwa dia tidak mendengarkan kata-kata saya, dan saya berkata dengan nada yang tidak sabar: “Selama libur sekolah, apakah guru menyuruhmu pulang kerumah selalu melihat iPad?Jika kamu terus melihat seperti ini, saat kamu pergi ke sekolah, matamu akan menjadi buta. Kamu jangan menyesal nanti! “Anak saya tidak peduli dengan nasihat saya sama sekali, dan jangka waktu dia bermain iPad juga menjadi semakin lama. Melihatnya dia mengabaikan keberadaan saya. Saya tidak bisa menahan amarah saya lagi dan berkata dengan nada yang keras, “Apakah telingamu tuli?” Dia menjawab dengan tidak senang dan berkata: “Oke, pertandingan terakhir!” Setelah mendengar ini, saya menjadi semakin marah dan berpikir: “Apa yang terjadi dengan anak ini? Selalu tidak bisa mengubahnya. Saya berbicara denganmu tapi kamu tidak mendengar, jadi saya akan mengambil iPadmu, kita lihat bagaimana kamu dapat bermain iPad lagi!” Ketika pikiran saya ini muncul, tiba-tiba saya terpikir bahwa saya mengambil iPadnya sebelum ini pun tidak ada apa-apa hasil malah membuat hubungan kami menjadi sangat kaku. Jadi saya tidak mengambil iPad-nya, tapi saya jatuh ke dalam perasaan amarah ini dan saya tidak tahu harus berbuat apa. Ketika merasa tidak berdaya, saya teringat dengan firman Tuhan: “satu hal yang tidak dapat mereka lakukan tanpanya adalah bahwa dalam segala hal harus melihat kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan. Ini adalah jenis kebijaksanaan terbesar.”

Saya tiba-tiba merasa kepala saya seperti mengalami korsleting. Bukankah ada kehendak Tuhan dalam lingkungan ini? Saya harus mengandalkan Tuhan dan memandang Tuhan. Jika saya bertindak atas watak rusak saya sendiri, itu hanya akan memperburukkan keadaan. Jadi saya berseru kepada Tuhan di dalam hati saya: “Oh Tuhan, anak ini telah menjadi kecanduan game online lagi. Dia tidak dapat mendengarkan kata-kata saya ketika saya berbicara dengan nada suara yang baik. Sekarang amarah saya semakin meningkat. Tolong pimpin dan bantu saya supaya saya tidak memperlakukan anak dengan amarah. Saya mau menyerahkan hal kecanduan anak terhadap game online di tangan-Mu. ” Setelah berdoa, saya merasa lebih lega dalam hati. Setelah itu, saya melihat firman Tuhan mengatakan: “Ketika engkau mempersekutukan kebenaran sereta menguraikan sesuatu dengan jelas dan dapat dipahami sehingga dapat mendidik dan memberi manfaat kepada orang lain, membuat mereka memahami kehendak Tuhan dan membantu mereka melepaskan diri dari kesalahpahaman dan kekeliruan, apakah perlu bersikap merendahkan? Apakah engkau harus menggunakan nada yang menceramahi? Engkau tidak perlu memarahi mereka, juga tidak perlu berbicara dengan suara keras; tidak perlu berteriak, apalagi bersikap amat kasar dengan perkataan, nada suara, atau intonasimu. Engkau hanya perlu belajar menggunakan nada suara yang normal, mempersekutukan dari posisi yang setara, berbicara dengan tenang, mengucapkan kata-kata di dalam hatimu, dan berusaha untuk berbicara dengan jelas dan dapat dipahami tentang apa yang kaupahami dan apa yang perlu dipahami orang lain. Ketika engkau berbicara secara dapat dipahami, orang lain akan tahu apa yang kaumaksud, bebanmu akan dilepaskan, mereka akan berhenti salah paham, dan engkau akan lebih jelas tentang apa yang sedang kau komunikasikan. Bukankah ini mendidik engkau berdua? Apakah perlu berbicara panjang lebar dengan suara keras bernada marah kepada mereka? Dalam banyak kasus, tidak perlu memaksakan hal ini kepada mereka. Jika engkau tidak memaksakan ajaran apa pun kepada mereka, tetapi mereka tetap menolak untuk menerima apa yang kaukatakan, apa yang harus kaulakukan? Sebagian dari apa yang kaukatakan adalah kebenaran dan merupakan fakta, tetapi dapatkah orang menerima perkataanmu segera setelah engkau mengucapkannya? Apa yang mereka butuhkan untuk dapat menerima perkataan ini dan untuk berubah? Mereka membutuhkan proses; engkau harus memberi mereka proses yang dapat digunakan untuk berubah. …”

Di bawah pimpinan Firman Tuhan, saya menyadari penyimpangan saya dalam memperlakukan anak saya yang bermain game. Meskipun pada mulanya saya berkomunikasi dengannya sabar, ketika dia tidak mendengarkan kata-kata saya, saya tidak dapat menahannya. Saya ingin dia patuh dan segera menjadi baik dan tidak lagi bermain game. Tapi saya mengabaikan, saya ingin dia melepaskan dengan sepenuhnya dan berhenti bermain game. Saya juga perlu memberinya waktu untuk berubah dan membiarkannya berubah sedikit demi sedikit. Saya sangat ingin mendapatkan hasil dengan cepat sehingga dia tidak bermain game dengan segera. Bukankah saya ini memaksa orang, dan terlalu sombong? Setelah menyadari hal ini, saya secara sadar belajar menunggu dan memberikan waktu kepada anak untuk berubah. Selain berkomunikasi dengannya dengan cara yang benar, yang lain semuanya diserahkan di tangan Tuhan. Beberapa hari setelah itu, meskipun anak saya masih memegang iPad seperti biasanya, hati saya merasa tidak nyaman dan saya ingin memarahinya, tetapi saya akan secara sadar datang ke hadapan Tuhan terlebih dahulu untuk berdoa, mengandalkan Tuhan, dan meminta Tuhan untuk melindungi hati saya. Secara perlahan, amarah saya lenyap. Kemudian, saya juga coba mengubah mentalitas saya, berbicara dengan anak saya dengan baik, dan memberinya waktu untuk berubah. Tentang hasilnya, saya menaati pengaturan Tuhan, dan percaya bahwa apakah anak bisa menghilangkan kebiasaan buruk ini ada di dalam tangan Tuhan.

Ketika saya benar-benar bergantung dan memandang kepada Tuhan, suatu pagi, saya tiba-tiba menemukan bahwa anak saya tidak mengambil iPad, tetapi duduk di sofa. Saya bertanya kepadanya: “Baby, apakah iPad kamu rusak?” Dia menatapku dan berkata, “Tidak.” Saya bertanya lagi, “Tidak ada baterai, apakah kamu sedang cas?” Dia berkata, “iPad masih banyak daya baterai.” Saat ini, saya menjadi semakin heran dan berkata, “iPad tidak rusak, dan masih banyak daya baterai. Mengapa kamu tiba-tiba bersikap seperti ini hari ini? ” Pada saat ini, dia tiba-tiba menangis dan berkata, “Bu, kamu jahat.” Kemudian “Waaaaa” menangis. Saya bingung dengannya, dan saya segera bertanya apa yang terjadi. Dia menangis dan berkata, “Saya mengalami mimpi buruk malam tadi. Orang jahat ingin membawaku pergi. Saya terus memanggilmu, tetapi kamu hanya melihatku dibawa pergi saja, Bu, aku sangat takut. Dan sekarang mataku juga sangat sakit. Saya merasa sakit sedikit saat makan sarapan, dan sekarang juga masih sakit. Bu, ibu bilang sebelum ini jika menonton TV atau main game mataku akan buta. Apakah mataku akan benar-benar buta? Saya tidak ingin menjadi buta. Jika saya buta, saya tidak akan bisa melihat ibu lagi. ” Setelah mendengar apa yang dia katakan, saya tiba-tiba merasa bahwa lingkungan ini ada niat baik dari Tuhan. Sebelum ini tidak peduli bagaimana saya membujuknya untuk mengurangi menonton TV atau bermain komputer dia tidak mau mendengar. Dia tidak peduli apa yang saya katakan kepadanya menonton dalam jangka waktu yang lama akan merusak matanya. Sekarang matanya tiba-tiba sakit. Aku tahu itu diizinkan oleh Tuhan. Saya dengan tenang berkata, “Terima kasih Tuhan!” Anak saya itu tiba-tiba berhenti menangis dan menatapku, lalu memelukku, dan menangis lagi. “Bu, saya tidak ingin menjadi buta!” Saya bertanya kepadanya, “Kali ini beri tahu saya bahwa kamu tidak ingin menjadi buta. Tapi bisakah ibu membantumu? “Dia menjawab,” Tidak bisa. “” Siapa yang bisa membantumu? “Dengan cepat dia menjawab:” Tuhan! “Aku berkata,” Ya, hanya Tuhan saja yang dapat membantumu saat ini. Mari kita berdoa bersama dan memberi tahu Tuhan apa yang ada di hatimu? “Dia langsung setuju,” Baik. “Kami berdua berlutut di tepi sofa dan saya katakan kepadanya bahwa Tuhan menuntut orang untuk jujur, dan membiarkan dia berbicara kata hatinya kepada Tuhan. Kemudian anak saya mulai berkata: “Tuhan, sebelum ini saya tidak mendengarkan kata-kata ibu dan selalu bermain game. Sekarang mataku sakit. Semalam saya mengalami mimpi buruk. Tuhan, saya tahu bahwa saya salah, saya bersedia untuk berubah, dan saya bersedia untuk menaati! ” Setelah berdoa, saya memutarkan lagu pujian firman Tuhan yang dia senang dengar “Tuhan Hargai Mereka yang Mendengar dan Patuhi-Nya”

Setelah mendengar lagu rohani ini, saya berkata kepada anak saya: “Setelah mendengar lagu pujian ini, apakah kamu bisa memahami kehendak Tuhan yang dikatakan dalam lagu pujian ini?” Dia berkata, “Tuhan ingin kita patuh.” Saya terus bertanya, “Sudahkah kamu melakukannya?” Dia menjawab, “Tidak. Bu, bisakah aku mengubahnya sekarang? Akankah mataku akan sembuh?” Saya berkata, “Tuhan menyukai orang yang jujur, dan Tuhan akan tahu jika kamu berbohong. Jika kamu dapat melakukan apa yang kamu katakan, matamu akan sembuh secara alami. Mulai sekarang kamu harus belajar berdoa kepada Tuhan dan berbicara dengan jujur dalam segala hal, kamu bisa mengerti? Dia berkata, “Baik, saya mengerti.” Terima kasih Tuhan! Setelah mengalami lingkungan tersebut, anak saya mau berdoa kepada Tuhan setiap malam, waktu dia main iPad juga berkurang, dan keadaan matanya juga semakin baik.

Suatu kali, dia dengan senang hati berkata kepada saya: “Bu, saya memberi tahu Ibu satu kabar baiknya, yaitu, beberapa kali saya ingin bermain game dengan iPad saya lagi. Tapi saya teringat mata saya sakit karena bermain dengan iPad sebelum ini, jadi Aku berdoa kepada Tuhan dalam hatiku, aku tidak ingin bermain iPad lagi, jadi aku pergi bermain dengan mainanku. Bu, ini sangat aneh. ” Saya berkata dengan rasa ingin tahu setelah mendengarkannya, “Bagaimana kamu memberi tahu Tuhan, bisakah kamu memberi tahu ibu?” Dia mengatakan kepada saya, “Tuhan Yang Mahakuasa, terima kasih dan puji Tuhan, saya teringat mata saya sakit karena bermain iPad sebelum ini, dan sekarang saya tidak lagi ingin bermain game lagi. Amin! Terima kasih, amin! ” Ketika setelah mendengarkan doanya, hati saya terharu dan saya berterima kasih kepada Tuhan dalam hati saya.

Kemudian, ketika saya melihat anak saya berperilaku baik di rumah dan di sekolah, saya juga menghadiahkan dan membiarkan dia membaca cerita Alkitab selama setengah jam, dengan harapan dia bisa mengetahui lebih banyak tentang pekerjaan Tuhan. Setelah dia selesai membaca, saya akan meluangkan waktu untuk mengobrol dengannya dan menanyakan apa yang dia paham setelah membacanya. Setelah dia memikirkannya sebentar, dia dapat menjelaskan sebab dan akibat cerita tersebut. Dia juga bisa menyimpulkan pandangannya dan membagikannya dengan saya. Terima kasih Tuhan!

Sekarang, anak saya tidak lagi memegang iPad di tangannya, tetapi mengambil inisiatif untuk bermain dengan mainannya, dan terkadang juga akan bertanya kepada saya dengan nada bernegosiasi: “Bu, kalau ada waktu, bisakah Ibu bermain petak umpet atau bermain bola basket denganku? ” Melihat perubahan pada anak saya ini adalah hasil dari pekerjaan Tuhan. Ketika saya bergaul dengan anak saya dan jika saya melihat bahwa dia melakukan sesuatu yang salah, saya tidak marah padanya seperti sebelumnya. Sebaliknya, saya bisa mengandalkan Tuhan untuk berkomunikasi secara baik dengannya, dan anak saya juga menjadi sangat patuh.

Sekarang, hubungan saya dengan anak saya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih Tuhan karena telah membimbing saya dan anak saya untuk tumbuh bersama. Dari pengalaman saya, saya belajar bahwa ketika mengalami lingkungan, saya harus belajar menerima dari Tuhan, belajar mengandalkan Tuhan, memandang kepada Tuhan, mencari kehendak Tuhan, dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Penerapan seperti ini sangat santai dan lepas.

Firman Tuhan Harian – “Tentang Alkitab (1)” – Kutipan 267

Firman Tuhan adalah kebenaran dan terlebih lagi adalah misteri. Sekarang gulungan buku kecil yang dinubuatkan dalam Alkitab telah dibuka. Apakah Anda ingin memahami lebih banyak misteri kebenaran dari Tuhan?

Buku seperti apakah Alkitab itu? Perjanjian Lama berisi tentang pekerjaan Tuhan selama Zaman Hukum Taurat. Perjanjian Lama dari Alkitab mencatat semua pekerjaan yang dilakukan oleh Yahweh selama Zaman Hukum Taurat dan pekerjaan penciptaan-Nya. Seluruh isinya mencatat pekerjaan yang telah dilakukan oleh Yahweh, dan kisah tentang pekerjaan Yahweh itu diakhiri dalam Kitab Maleakhi. Perjanjian Lama mencatat dua bagian pekerjaan yang telah Tuhan lakukan: yang pertama adalah pekerjaan penciptaan, dan yang kedua adalah penetapan hukum Taurat. Keduanya adalah pekerjaan yang Yahweh lakukan. Zaman Hukum Taurat merepresentasikan pekerjaan di bawah nama Tuhan Yahweh; ini adalah keseluruhan pekerjaan yang terutama dilaksanakan di bawah nama Yahweh. Jadi, Perjanjian Lama mencatat pekerjaan Yahweh, sedangkan Perjanjian Baru mencatat pekerjaan Yesus, pekerjaan yang terutama dilakukan di bawah nama Yesus. Makna penting dari nama Yesus dan pekerjaan yang dilakukan-Nya sebagian besar dicatat di dalam Perjanjian Baru. Selama Zaman Hukum Taurat Perjanjian Lama, Yahweh membangun bait suci dan mezbah di Israel. Dia membimbing kehidupan orang Israel di bumi, membuktikan bahwa mereka adalah umat pilihan-Nya, yaitu kelompok orang pertama yang Dia pilih di muka bumi dan yang berkenan di hati-Nya, kelompok pertama yang dipimpin-Nya secara pribadi. Dengan kata lain, kedua belas suku Israel adalah orang-orang terpilih yang pertama, jadi Dia selalu bekerja di dalam mereka, sampai saat pekerjaan Yahweh di Zaman Hukum Taurat berakhir. Tahap kedua pekerjaan ini adalah pekerjaan pada Zaman Kasih Karunia dari Perjanjian Baru, dan ini dilaksanakan di antara suku Yehuda, salah satu dari kedua belas suku Israel. Cakupan pekerjaan itu lebih kecil karena Yesus adalah Tuhan yang menjadi daging. Yesus hanya bekerja di tanah Yudea, dan hanya melakukan pekerjaan selama tiga-setengah tahun; oleh karenanya, apa yang tercatat di Perjanjian Baru tidaklah bisa melampaui jumlah pekerjaan yang tercatat dalam Perjanjian Lama.

Dikutip dari “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Ingin belajar lebih banyak tentang misteri Alkitab? Di sini ada berisi artikel-artikel tentang nubuatan Alkitab, mengenal Kristus, gadis-gadis yang bijaksana, misteri kedatangan Tuhan, dan diangkat ke kerajaan surga untuk membantu Anda memahami misteri Alkitab.

Bagaimana Tuhan Yang Mahakuasa melakukan pekerjaan penghakiman di akhir zaman?

penghakiman Tuhan

Pertanyaan: Bagaimana Tuhan Yang Mahakuasa melakukan pekerjaan penghakiman-Nya di akhir zaman? Bagaimana Dia menghakimi manusia, menyucikan manusia, dan menyempurnakan manusia melalui firman-Nya? Ini adalah sesuatu yang sangat kita perlu ketahui. Jika kita memahami pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa, maka kita dapat benar-benar mendengar suara Tuhan dan diangkat ke hadapan takhta Tuhan. Tolong beri tahu kami lebih detail!

Jawaban: Mempelajari bagaimana Tuhan Yang Mahakuasa melakukan pekerjaan penghakiman-Nya di akhir zaman sangat penting bagi kemampuan kita untuk memperoleh keselamatan dengan mengejar kebenaran. Tuhan Yang Mahakuasa bekerja di akhir zaman dengan mengungkapkan kebenaran untuk menghakimi dan menahirkan orang. Ia melakukan ini semata-mata untuk mengangkat orang-orang kudus-Nya ke dalam kerajaan surga. Namun, banyak orang percaya di komunitas agama tidak memahami kehendak Tuhan. Mereka berpikir bahwa Tuhan akan kembali dan langsung mengangkat semua orang kudus ke dalam kerajaan surga. Mereka tidak percaya Dia akan melakukan pekerjaan penghakiman dan hajaran karena, yah, jika Dia menghakimi dan menghajar manusia, tidakkah Dia akan mengutuk dan menghukum mereka juga? Karena itu, mereka menolak untuk menerima pekerjaan penghakiman Tuhan di akhir zaman; mereka hanya menunggu Tuhan turun di awan dan mengangkat mereka ke dalam kerajaan surga. Sebenarnya, ini sepenuhnya merupakan kesalahpahaman akan kehendak Tuhan. Tuhan Yesus melakukan pekerjaan penebusan-Nya untuk membuka jalan bagi pekerjaan penghakiman di akhir zaman. Tujuan akhir Tuhan adalah untuk menahirkan dan menyelamatkan manusia, membuat mereka dapat beristirahat di kerajaan surga. Namun, pekerjaan Tuhan menebus dan menyelamatkan manusia direncanakan; itu berlangsung secara bertahap. Itu tidak semuanya terjadi sekaligus. Tuhan Yesus telah menyelesaikan pekerjaan penebusan-Nya dan telah berjanji untuk kembali dan menerima orang-orang kudus. Namun, tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana Tuhan akan menjemput orang-orang kudus di akhir zaman. Kenyataannya, ketika Tuhan datang untuk menerima orang-orang kudus-Nya di akhir zaman, Dia membawa mereka ke takhta-Nya lebih dulu untuk menghakimi mereka, menahirkan mereka, dan menyempurnakan mereka menjadi pemenang. Bukankah begini cara orang-orang kudus diangkat ke dalam kerajaan surga? Namun, ini bukanlah sesuatu yang mudah dimengerti oleh manusia. Sebelum mereka dapat menghadap takhta Tuhan, mereka harus mengalami penghakiman, hajaran, dan penahiran. Itulah sebabnya orang-orang telah membentuk pemahaman mereka sendiri tentang pekerjaan penghakiman Tuhan di akhir zaman. Nah, menurut kalian, apakah hajaran dan penghakiman Tuhan benar-benar sebuah berkat? Ataukah itu kutukan dan hukuman? Banyak orang tidak mengerti ini. Mari kita lihat apa yang dikatakan Tuhan Yang Mahakuasa tentang hal itu,

Firman Tuhan katakan: “Yang Tuhan kutuk adalah ketidaktaatan manusia, dan yang dihakimi-Nya adalah dosa-dosa manusia. Walaupun Dia berbicara dengan keras dan tanpa belas kasihan, Dia mengungkapkan segala sesuatu yang ada di dalam diri manusia, mengungkapkan apa yang penting di dalam diri manusia melalui perkataan yang keras ini, kendati demikian, melalui penghakiman seperti itu, Dia memberi manusia pengetahuan yang mendalam tentang esensi daging, dan dengan demikian manusia tunduk di hadapan Tuhan. Daging manusia itu berdosa, berasal dari Iblis, tidak taat, dan merupakan sasaran hajaran Tuhan. Jadi, untuk memungkinkan manusia mengenal dirinya sendiri, firman penghakiman Tuhan harus dijatuhkan atasnya dan berbagai jenis pemurnian harus digunakan; baru saat itulah pekerjaan Tuhan bisa efektif” (“Hanya Dengan Mengalami Ujian-Ujian yang Menyakitkan Engkau Semua Bisa Mengenal Keindahan Tuhan” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Hari ini Tuhan menghakimi, menghajar dan menghukum engkau, tetapi ketahuilah bahwa penghukuman atasmu bertujuan supaya engkau dapat mengenal dirimu sendiri. Penghukuman, kutukan, penghakiman, hajaran—semua ini bertujuan agar engkau dapat mengenal dirimu sendiri, sehingga watakmu bisa berubah, dan terlebih lagi, supaya engkau dapat mengetahui nilaimu, dan melihat bahwa semua tindakan Tuhan adalah benar, dan sesuai dengan watak-Nya dan kebutuhan pekerjaan-Nya, bahwa Dia bekerja sesuai dengan rencana-Nya untuk keselamatan manusia, dan bahwa Dia adalah Tuhan yang benar yang mengasihi dan menyelamatkan manusia, yang menghakimi dan menghajar manusia. … Tuhan tidak datang untuk membunuh, atau membinasakan, tetapi menghakimi, mengutuk, menghajar, dan menyelamatkan” (“Engkau Harus Mengesampingkan Berkat Status dan Memahami Kehendak Tuhan untuk Memberikan Keselamatan kepada Manusia” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Engkau hidup dalam tempat dosa dan kebejatan. Engkau adalah orang yang bejat dan berdosa. Saat ini, engkau sekalian bukan hanya dapat melihat Tuhan, tetapi yang terlebih penting, engkau telah menerima hajaran dan penghakiman, menerima keselamatan yang sedalam itu, dengan kata lain, menerima kasih Tuhan yang terbesar. Segala yang Dia lakukan adalah kasih sejati bagimu sekalian. Dia tidak memiliki niat jahat. Karena dosamulah Dia menghakimimu, supaya engkau memeriksa dirimu sendiri dan menerima keselamatan yang luar biasa ini. Semua ini dilakukan dengan tujuan demi menjadikan manusia lengkap. Dari awal sampai akhir, Tuhan telah melakukan semua yang dapat dilakukan-Nya untuk menyelamatkan manusia, dan yang jelas, Dia tidak mau menghancurkan manusia sama sekali, manusia yang Dia ciptakan dengan tangan-Nya sendiri. Kini, Dia telah datang ke antara engkau sekalian untuk bekerja. Bukankah ini bahkan keselamatan yang lebih besar lagi? Jika Dia membencimu, mungkinkah Dia melakukan pekerjaan yang sedemikian besar untuk memimpin engkau sekalian secara pribadi? Untuk apa Dia menderita demikian? Tuhan tidak membencimu atau berniat jahat terhadap engkau sekalian. Engkau harus mengetahui bahwa kasih Tuhan adalah kasih yang paling sejati. Hanya karena ketidaktaatan orang, Dia harus menyelamatkan mereka melalui penghakiman. Jika tidak demikian, mereka tidak akan dapat diselamatkan. Karena engkau sekalian tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani kehidupan atau bagaimana seharusnya engkau hidup, dan engkau hidup di tempat yang bejat dan penuh dosa ini dan engkau adalah iblis yang bejat dan kotor, Dia bahkan tak sampai hati membiarkan engkau menjadi lebih bejat lagi. Dia juga tak sampai hati melihat engkau hidup di tempat kotor seperti ini, diinjak-injak oleh Iblis semaunya, tak pula Dia sampai hati membiarkan engkau sekalian masuk ke dalam neraka. Dia hanya ingin menjadikan kelompokmu ini menjadi milik-Nya dan menyelamatkan engkau sekalian sepenuhnya. Inilah tujuan utama-Nya melakukan pekerjaan penaklukan pada engkau sekalian—hanya untuk keselamatanmu” (“Kebenaran Sesungguhnya di Balik Karya Penaklukan (4)” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Dari firman Tuhan Yang Mahakuasa, sangat jelas bahwa pekerjaan penghakiman Tuhan di akhir zaman tidak berusaha untuk mengutuk orang; Tuhan tidak ingin membunuh orang. Dia ingin membuat orang-orang mengakui bahwa mereka telah sepenuhnya dirusak oleh Iblis. Dia ingin mereka mengetahui sifat dan esensi mereka: Mereka menentang Tuhan dan mengkhianati Tuhan. Dia ingin mereka mengetahui watak-Nya yang benar dan kudus yang tidak dapat disinggung. Pekerjaan-Nya berusaha membangkitkan hati dan roh manusia. Dia ingin menyelamatkan manusia dari watak mereka yang rusak sehingga mereka dapat hidup dalam rupa manusia sejati agar diselamatkan. Jika kita tidak mengalami penghakiman dan hajaran Tuhan, kita tidak dapat mengakui sifat iblis kita sendiri, kita juga tidak dapat memastikan sumber sejati dari dosa dan perlawanan kita kepada Tuhan. Terlebih lagi, tanpa penghakiman dan hajaran-Nya, kita pasti tidak dapat memahami watak Tuhan yang benar; watak kita yang rusak tidak bisa diubah. Kita tidak akan memiliki cara untuk benar-benar menaati dan menghormati Tuhan. Dengan demikian, bagaimana kita bisa memenuhi syarat untuk memasuki kerajaan Tuhan? Seperti yang kalian lihat, Tuhan menghakimi manusia karena Dia ingin menahirkan dan menyelamatkan mereka. Mengalami penghakiman dan penahiran Tuhan adalah berkat terbesar yang dapat kita terima. Itulah kasih Tuhan yang sangat besar dan keselamatan bagi umat manusia yang rusak! Nah, bagaimana cara Tuhan melakukan pekerjaan penghakiman-Nya? Tuhan Yang Mahakuasa mengatakan banyak hal tentang kebenaran ini. Mari baca beberapa firman Tuhan Yang Mahakuasa,

Ketika Tuhan menjadi daging kali ini, pekerjaan-Nya untuk mengungkapkan watak-Nya, terutama melalui hajaran dan penghakiman. Dengan landasan ini, Ia membawa lebih banyak kebenaran kepada manusia, menunjukkan lebih banyak cara praktis, ” sehingga dapat mencapai tujuan-Nya untuk menaklukkan dan menyelamatkan manusia dari wataknya yang rusak. Inilah landasan di balik pekerjaan Tuhan pada Zaman Kerajaan” (Kata Pengantar, Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia).

Pada akhir zaman, Kristus menggunakan berbagai kebenaran untuk mengajar manusia, mengungkapkan esensi manusia, dan membedah perkataan dan perbuatan manusia. Firman ini terdiri dari berbagai kebenaran, seperti tugas-tugas manusia, bagaimana manusia seharusnya menaati Tuhan, bagaimana manusia seharusnya hidup dalam kemanusiaan yang normal, serta hikmat dan watak Tuhan, dan sebagainya. Firman ini semuanya ditujukan pada esensi manusia dan wataknya yang rusak. Secara khusus, firman yang mengungkapkan bagaimana manusia menolak Tuhan diucapkan berkaitan dengan bagaimana manusia merupakan perwujudan Iblis, dan kekuatan musuh yang melawan Tuhan. Dalam melaksanakan pekerjaan penghakiman-Nya, Tuhan tidak hanya menjelaskan natur manusia dengan beberapa kata; Dia menyingkapkan, menangani, dan memangkasnya dalam jangka panjang. Cara-cara penyingkapan, penanganan, dan pemangkasan ini tidak bisa digantikan dengan perkataan biasa, tetapi dengan kebenaran yang sama sekali tidak dimiliki manusia. Hanya cara-cara seperti inilah yang dapat disebut penghakiman; hanya melalui penghakiman jenis inilah manusia bisa ditundukkan dan diyakinkan sepenuhnya untuk tunduk kepada Tuhan, dan bahkan memperoleh pengenalan yang sejati akan Tuhan. Yang dihasilkan oleh pekerjaan penghakiman adalah pemahaman manusia tentang wajah Tuhan yang sejati dan kebenaran tentang pemberontakannya sendiri. Pekerjaan penghakiman memungkinkan manusia untuk mendapatkan banyak pemahaman akan kehendak Tuhan, tujuan pekerjaan Tuhan, dan misteri-misteri yang tidak dapat dipahami olehnya. Pekerjaan ini juga memungkinkan manusia untuk mengenali dan mengetahui hakikatnya yang rusak dan akar penyebab dari kerusakannya, dan juga mengungkapkan keburukan manusia. Semua efek ini dihasilkan oleh pekerjaan penghakiman, karena hakikat pekerjaan ini sebenarnya adalah pekerjaan membukakan jalan, kebenaran, dan hidup Tuhan kepada semua orang yang beriman kepada-Nya. Pekerjaan ini adalah pekerjaan penghakiman yang dilakukan oleh Tuhan” (“Kristus Melakukan Pekerjaan Penghakiman dengan Kebenaran” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Tuhan memiliki banyak cara untuk menyempurnakan manusia. Dia menggunakan berbagai macam lingkungan untuk menangani watak rusak manusia, dan memakai bermacam hal untuk menyingkapkan manusia; suatu saat Dia menangani manusia, di saat lainnya Dia menyingkapkan manusia, menggali dan menyingkapkan berbagai ‘misteri’ di kedalaman hati manusia, dan menunjukkan kepada manusia natur dirinya dengan menyingkapkan banyak hal mengenai keadaannya. Tuhan menyempurnakan manusia melalui beragam cara—melalui penyingkapan, penanganan, pemurnian, dan hajaran—sehingga manusia bisa mengetahui bahwa Tuhan itu nyata” (“Hanya Mereka yang Berfokus pada Penerapan yang Dapat Disempurnakan” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Tuhan melakukan pekerjaan penghakiman dan hajaran sehingga manusia dapat memperoleh pengetahuan tentang Dia, dan demi kesaksian-Nya. Tanpa penghakiman-Nya atas watak manusia yang rusak, manusia tidak mungkin mengetahui watak-Nya yang benar, yang tidak menoleransi pelanggaran, dan manusia juga tidak akan mampu mengubah pengetahuan lamanya tentang Tuhan menjadi pengetahuan yang baru. Demi kesaksian-Nya, dan demi pengelolaan-Nya, Dia memperlihatkan keseluruhan diri-Nya secara terbuka, sehingga melalui penampakan-Nya yang secara terbuka itu, Dia memampukan manusia untuk sampai pada pengetahuan tentang Tuhan, untuk diubahkan dalam wataknya, dan untuk menjadi kesaksian yang meyakinkan bagi Tuhan. Perubahan watak manusia dicapai melalui berbagai jenis pekerjaan Tuhan; tanpa perubahan seperti itu dalam wataknya, manusia tidak akan dapat menjadi kesaksian bagi Tuhan dan berkenan di hati Tuhan. Perubahan watak manusia menandakan bahwa manusia telah membebaskan dirinya dari perbudakan Iblis dan dari pengaruh kegelapan, dan telah benar-benar menjadi teladan dan contoh pekerjaan Tuhan, seorang saksi Tuhan, dan orang yang berkenan di hati Tuhan” (“Hanya Mereka yang Mengenal Tuhan Yang Bisa Menjadi Kesaksian bagi Tuhan” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Perkataan Tuhan Yang Mahakuasa begitu praktis. Tuhan mengungkapkan firman-Nya dan melakukan pekerjaan penghakiman-Nya di akhir zaman untuk menyelamatkan manusia dan menjadikan mereka sempurna! Dengan membaca firman penghakiman Tuhan Yang Mahakuasa, akhirnya kita memahami bahwa di dunia jahat yang gelap ini, seluruh umat manusia hidup di bawah kekuasaan Iblis. Mereka yang dirusak oleh Iblis tidak lagi memiliki jejak kemanusiaan. Mereka arogan, bengkok dan licik, egois, dan tidak bermoral. Mereka bosan akan kebenaran dan memuja kejahatan. Mereka akan melakukan apa saja demi kedudukan dan ketenaran mereka sendiri. Sama seperti binatang yang berkelahi di antara mereka sendiri, saling membunuh. Mereka benar-benar kehilangan kemanusiaan dan nalar mereka. Meskipun mereka percaya kepada Tuhan, mereka sesungguhnya memuja uang, ketenaran, dan status. Mereka mengikuti arus kejahatan di seluruh dunia, sering berbuat dosa, memberontak, dan melawan Tuhan. Meskipun mereka mengorbankan segalanya dan menanggung penderitaan, mereka hanya melakukannya untuk memuaskan keinginan mereka sendiri untuk memeroleh berkat. Mereka melakukannya untuk mendapatkan upah dan memasuki kerajaan surga. Mereka tidak melakukannya untuk mengejar kebenaran atau mengetahui atau mematuhi Tuhan. Meskipun mereka percaya kepada Tuhan, hati mereka dipenuhi dengan pemahaman dan imajinasi mereka sendiri tentang Dia. Tidak ada yang benar-benar tahu watak Tuhan dan semua yang dimiliki-Nya dan semua sifat-Nya, jenis orang yang benar-benar disukai Tuhan, jenis orang seperti apa yang Dia benci, hal-hal apa yang dilakukan orang yang melawan Tuhan, yang menyinggung watak-Nya, dan dikutuk oleh-Nya, berapa banyak pemikiran dan pemahaman manusia yang tidak sejalan dengan kebenaran, alasan seperti apa yang harus dimiliki manusia di hadapan Tuhan, kenyataan kebenaran yang harus dimiliki manusia, dan sebagainya. Manusia yang rusak tidak tahu apa-apa tentang kebenaran penting ini tentang mengetahui, menaati, dan menghormati Tuhan. Ras manusia seperti ini yang telah rusak hingga ke intinya, jika mereka tidak mengalami penghakiman dan penahiran Tuhan, bagaimana mungkin mereka tidak melawan dan mengkhianati Tuhan? Selama akhir zaman, Tuhan menjadi manusia dan mengungkapkan kebenaran untuk menyelamatkan manusia sesuai dengan kebutuhan manusia yang rusak. Watak Tuhan yang adil dan agung yang tidak dapat disinggung diungkapkan kepada umat manusia. Hakekat dan kerusakan manusia yang nyata terungkap dengan jelas, yang meyakinkan manusia. Kita telah mengalami penghakiman dan hajaran Tuhan dari firman-Nya; kita telah melihat keangkuhan dan keegoisan kita sendiri, dan hidup sesuai dengan filosofi dan aturan keiblisan kita sendiri. Semua yang kita lakukan, kita lakukan demi ketenaran dan keuntungan kita sendiri. Meskipun kita bekerja dan berkhotbah, kita melakukannya demi reputasi dan status kita sendiri. Kita terus memuliakan diri, menghormati diri sendiri dan membuat orang lain mengagungkan kita. Kita tidak melakukan ini untuk meninggikan Tuhan atau bersaksi bagi Tuhan sama sekali. Ketika pekerjaan Tuhan tidak sejalan dengan pemahaman kita, kita justru membatasi dan menghakimi Tuhan. Kita berdiri dalam perlawanan yang keras terhadap Tuhan dan tidak mematuhi Tuhan sama sekali. Ketika kita melakukan tugas kita, kita masih bisa menikmati kesenangan daging. Kita terus saja menipu Tuhan; kita tidak setia kepada Tuhan sama sekali. Dalam firman penghakiman dan wahyu Tuhan, kita dapat melihat bahwa kita telah dirusak oleh Iblis. Kita tidak memiliki hati nurani, akal atau martabat manusia. Kita tidak pantas disebut manusia. Kita hanyalah sejenis dengan Iblis, musuh-musuh Tuhan. Kita merasa malu dan tidak layak untuk bertemu Tuhan. Kita hanya bisa berlutut di hadapan Tuhan dan mengutuk diri kita sendiri, penuh penyesalan dan kebencian pada diri sendiri. Ketika kita sungguh merasakan watak kebenaran Tuhan yang tidak dapat disinggung, kita hanya bisa takut kepada Tuhan dan memahami bahwa Tuhan memiliki niat baik: untuk menyelamatkan manusia. Tuhan menghakimi dan menghajar kita karena Tuhan membenci dosa dan pemberontakan kita dan Dia ingin menyelamatkan kita dari watak keiblisan kita dan mendapatkan kita. Ketika kita dengan keras kepala mempertaruhkan nyawa kita dalam pemberontakan dan perlawanan kepada Tuhan, Dia menghajar dan mendisiplinkan kita. Ketika kita memberikan hati kita kepada Tuhan, Tuhan menunjukkan belas kasihan kepada kita. Dia tidak menghukum kita atas semua kekurangan kita dan perbuatan yang kita lakukan. Dia menerangi kita dan menuntun kita serta membuat kita memahami kehendak-Nya. Melalui hajaran dan penghakiman Tuhan, kita tanpa sadar memeroleh pengetahuan sejati tentang watak Tuhan Dia mengizinkan kita untuk belajar bahwa watak-Nya mengandung kasih dan berkat-Nya. Kita telah melihat kekudusan dan kebesaran Tuhan. Itu telah menciptakan penghormatan dan kasih kita kepada Tuhan. Kita melihat sifat keiblisan kita dengan semakin jelas dan secara bertahap memahami beberapa kebenaran. Kemampuan kita untuk membedakan hal-hal positif dan negatif secara bertahap meningkat. Sudut pandang kita tentang berbagai hal berubah dan kita secara bertahap mulai haus akan kebenaran. Kita tidak lagi ingin hidup dengan filosofi dan hukum Iblis, atau secara tidak masuk akal mencoba mendapatkan sesuatu dari Tuhan. Hati nurani dan akal kita dipulihkan. Kita mulai mencari dan melakukan kebenaran dalam segala hal yang kita lakukan. Kita melakukan tugas sebagai makhluk yang diciptakan dengan cara yang membumi dan mematuhi kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Watak kehidupan kita semakin banyak berubah; kita mulai hidup seperti manusia sejati. Kemampuan kita untuk berubah seperti itu adalah efek dari pekerjaan penghakiman Tuhan. Kini semua jemaat yang menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman sekarang tahu bahwa kita harus menerima dan mematuhi pekerjaan penghakiman Tuhan di akhir zaman agar diselamatkan dan dijadikan sempurna.

Dikutip dari naskah film “Bangkit Dari Mimpi”

Catatan Editor:

Terima kasih atas perhatian Anda pada blog saya! Sekarang nubuat kedatangan Tuhan Yesus telah digenapi, itu adalah waktu yang sangat penting untuk menyambut Tuhan Yesus, bagaimana kita dapat menyambut Tuhan dan dapat diangkat ke kerajaan surga? Jika Anda mengalami masalah dan kebingungan dalam iman dan kehidupan, silakan Anda untuk berdiskusi dan berkomunikasi dengan kita melalui Messenger.

  1. Obrol bersama kami di Messenger: https://bit.ly/2Te4fuo
  2. Hubungi kami via Whatsapp: +62-811-263-5058
  3. pertemuan online: https://bit.ly/2WCE96m

Firman Tuhan Harian – “Tentang Alkitab (1)” – Kutipan 266

Firman Tuhan adalah kebenaran dan terlebih lagi adalah misteri. Sekarang gulungan buku kecil yang dinubuatkan dalam Alkitab telah dibuka. Apakah Anda ingin memahami lebih banyak misteri kebenaran dari Tuhan?

Sebelum Zaman Kasih Karunia, orang membaca Alkitab, tetapi pada saat itu hanya ada Perjanjian Lama; tidak ada Perjanjian Baru. Karena hanya ada Alkitab Perjanjian Lama, mereka pun mulai membaca kitab suci. Setelah bimbingan yang diberikan Yahweh kepadanya selesai, Musa menuliskan Kitab Kejadian, Keluaran, dan Ulangan. Ia mengingat kembali pekerjaan Yahweh pada masa itu dan menuliskannya. Alkitab adalah buku sejarah. Tentu saja, buku ini juga mengandung beberapa ramalan para nabi, dan ramalan ini bukanlah sejarah. Alkitab terdiri dari beberapa bagian—bukan hanya ada nubuatan, bukan hanya ada pekerjaan Yahweh, juga bukan hanya ada surat-surat Paulus. Engkau harus mengetahui ada berapa banyak bagian di dalam Alkitab; Perjanjian Lama terdiri dari Kejadian, Keluaran …, dan kitab-kitab nubuat yang ditulis oleh para nabi. Perjanjian Lama diakhiri dengan Kitab Maleakhi. Perjanjian Lama mencatat pekerjaan Zaman Hukum Taurat, yang dipimpin oleh Yahweh; dari Kejadian sampai Maleakhi, ini merupakan catatan yang meliputi banyak hal tentang semua pekerjaan di Zaman Hukum Taurat. Artinya, Perjanjian Lama mencatat semua yang dialami oleh orang-orang yang dipimpin oleh Yahweh di Zaman Hukum Taurat. Selama Zaman Hukum Taurat Perjanjian Lama, sejumlah besar nabi yang diangkat oleh Yahweh untuk bernubuat bagi-Nya memberi petunjuk kepada berbagai suku dan bangsa, dan menubuatkan pekerjaan yang akan Yahweh lakukan. Semua orang yang telah diangkat ini telah dikaruniai Roh nubuat oleh Yahweh: mereka bisa melihat penglihatan-penglihatan yang berasal dari Yahweh dan mendengar suara-Nya, dan dengan cara demikian mereka diilhami oleh-Nya dan mereka pun menuliskan nubuat-nubuat tersebut. Pekerjaan yang mereka lakukan adalah ungkapan dari suara Yahweh—itu adalah pekerjaan nubuat yang mereka lakukan atas nama Yahweh, dan pekerjaan Yahweh pada saat itu hanyalah membimbing orang dengan menggunakan Roh-Nya; Dia tidak menjadi daging, dan orang-orang tidak melihat wajah-Nya. Oleh karena itulah, Dia mengangkat banyak nabi untuk melakukan pekerjaan-Nya, dan memberi mereka tutur kata-Nya yang kemudian mereka sampaikan kepada setiap suku dan kaum Israel. Pekerjaan mereka adalah bernubuat, dan beberapa di antara mereka menuliskan petunjuk Yahweh kepada mereka untuk ditunjukkan kepada orang lain. Yahweh mengangkat orang-orang ini untuk bernubuat, untuk meramalkan pekerjaan di masa depan atau pekerjaan yang masih harus diselesaikan pada masa itu, agar orang-orang dapat memandang kehebatan dan hikmat Yahweh. Kitab-kitab nubuat ini sangat berbeda dari kitab-kitab lain di dalam Alkitab; kitab ini berisi perkataan-perkataan yang diucapkan atau ditulis oleh mereka yang telah dikaruniai Roh bernubuat—ditulis oleh mereka yang telah mendapat penglihatan atau mendengar suara Yahweh. Selain kitab-kitab nubuat ini, semua bagian yang lain dalam Perjanjian Lama adalah catatan yang dibuat oleh orang-orang sesudah Yahweh menyelesaikan pekerjaan-Nya. Kitab-kitab ini tidak bisa menggantikan nubuat yang diucapkan oleh nabi-nabi yang diangkat oleh Yahweh, sama seperti Kitab Kejadian dan Keluaran tidak bisa dibandingkan dengan Kitab Yesaya dan Kitab Daniel. Nubuatan-nubuatan itu diucapkan sebelum pekerjaan dilaksanakan; sedangkan kitab-kitab lain ditulis sesudah pekerjaan diselesaikan, karena hanya itu yang bisa orang lakukan. Para nabi pada masa itu diilhami oleh Yahweh dan mengucapkan beberapa nubuat, mereka mengucapkan banyak perkataan, dan mereka menubuatkan hal-hal yang akan terjadi pada Zaman Kasih Karunia, juga penghancuran dunia pada akhir zaman—yaitu pekerjaan yang Yahweh rencanakan. Kitab-kitab lainnya berisi catatan tentang pekerjaan yang telah Yahweh lakukan di Israel. Jadi, tatkala membaca Alkitab, engkau terutama sedang membaca tentang apa yang Yahweh lakukan di Israel. Alkitab Perjanjian Lama terutama mencatat pekerjaan Yahweh dalam membimbing Israel, bagaimana Dia memakai Musa untuk membimbing orang Israel keluar dari Mesir, membebaskan mereka dari belenggu Firaun, dan membawa mereka ke padang gurun. Setelahnya, mereka memasuki Kanaan, dan segala sesuatu sesudah ini adalah tentang kehidupan mereka di Kanaan. Selain semua ini, Perjanjian Lama adalah catatan tentang pekerjaan Yahweh di seluruh Israel. Segala sesuatu yang tercatat di Perjanjian Lama adalah pekerjaan Yahweh di Israel, pekerjaan yang Yahweh telah lakukan di tanah tempat Dia menciptakan Adam dan Hawa. Dari saat ketika Tuhan resmi mulai menuntun manusia di bumi sesudah zaman Nuh, semua yang dicatat di Perjanjian Lama adalah pekerjaan Israel. Dan mengapa tidak ada catatan tentang pekerjaan di luar Israel? Karena tanah Israel adalah tempat kelahiran umat manusia. Pada mulanya, tidak ada negara lain selain Israel, dan Yahweh tidak bekerja di tempat lain. Dengan demikian, apa yang tercatat di dalam Alkitab adalah murni pekerjaan di Israel pada masa itu. Kata-kata yang diucapkan oleh para nabi, oleh Yesaya, Daniel, Yeremia, dan Yehezkiel … kata-kata mereka meramalkan pekerjaan Yahweh yang lainnya di muka bumi, mereka meramalkan pekerjaan Tuhan Yahweh itu sendiri. Semua ini berasal dari Tuhan, semua ini adalah pekerjaan Roh Kudus, dan selain dari kitab-kitab nabi ini, segala sesuatu yang tertulis adalah catatan tentang pengalaman manusia dalam pekerjaan yang Yahweh lakukan pada masa itu.

Pekerjaan penciptaan terjadi sebelum ada manusia, tetapi Kitab Kejadian hanya ada setelah umat manusia ada; ini adalah kitab yang ditulis oleh Musa selama Zaman Hukum Taurat. Ini seperti hal-hal yang terjadi padamu sekarang ini: setelah suatu peristiwa terjadi, engkau menuliskannya untuk ditunjukkan kepada orang-orang di masa depan, dan bagi orang-orang di masa depan, apa yang engkau catat adalah hal-hal yang telah terjadi di masa lalu—ini semua tidak lebih dari sejarah. Hal-hal yang dicatat di Perjanjian Lama adalah pekerjaan Yahweh di Israel, dan hal-hal yang dicatat di Perjanjian Baru adalah pekerjaan Yesus di Zaman Kasih Karunia; semuanya mendokumentasikan pekerjaan yang Tuhan lakukan di dua zaman yang berbeda. Perjanjian Lama mendokumentasikan pekerjaan Tuhan selama Zaman Hukum Taurat, dan karenanya, Perjanjian Lama adalah buku sejarah, sedangkan Perjanjian Baru adalah produk dari pekerjaan di Zaman Kasih Karunia. Ketika pekerjaan baru dimulai, itu juga menjadi kedaluwarsa—dan karenanya, Perjanjian Baru juga merupakan buku sejarah. Tentu saja Perjanjian Baru tidaklah sesistematis Perjanjian Lama dan juga tidak mencatat lebih banyak hal. Semua perkataan yang Yahweh ucapkan di Perjanjian Lama dicatat dalam Alkitab, sedangkan hanya beberapa dari perkataan Yesus yang dicatat dalam keempat kitab Injil. Tentu saja, Yesus juga melakukan banyak pekerjaan, tetapi itu tidak dicatat secara rinci. Sedikitnya jumlah catatan yang tercatat dalam Perjanjian Baru disebabkan karena seberapa banyak pekerjaan yang Yesus lakukan; jumlah pekerjaan-Nya selama tiga setengah tahun di bumi ditambah dengan pekerjaan para rasul, jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh Yahweh. Oleh karenanya, terdapat lebih sedikit kitab di Perjanjian Baru dibandingkan Perjanjian Lama.

Dikutip dari “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Apakah kamu tahu? Tuhan Yesus kembali! Untuk informasi lebih lanjut, silakan klik tautan dan baca Firman Tuhan hari ini.

Orang Kristen Harus Menguasai Tiga Poin dalam Renungan Malam untuk Mencapai Hasil

doa

Oleh Amerika Serikat Cindy

Renungan dapat mempertahankan hubungan normal kita dengan Tuhan dan membantu pertumbuhan rohani kita. Ini juga merupakan pilihan yang baik bagi kita untuk renungan malam, karena kita menghentikan kesibukan di malam hari dan menjauh dari kebisingan dunia luar, hati kita mudah untuk tenang di hadapan Tuhan dan dekat dengan Tuhan. Bagaimana kita bisa mencapai hasil yang baik dalam renungan malam kita? Silahkan baca artikel di bawah ini.

Lanjutkan membaca “Orang Kristen Harus Menguasai Tiga Poin dalam Renungan Malam untuk Mencapai Hasil”

Firman Tuhan Harian – “Tentang Alkitab (1)” – Kutipan 265

Firman Tuhan adalah kebenaran dan terlebih lagi adalah misteri. Sekarang gulungan buku kecil yang dinubuatkan dalam Alkitab telah dibuka. Apakah Anda ingin memahami lebih banyak misteri kebenaran dari Tuhan?

Selama bertahun-tahun, sarana tradisional orang (yaitu dalam Kekristenan, salah satu dari tiga agama besar dunia) adalah dengan membaca Alkitab. Meninggalkan Alkitab artinya tidak percaya kepada Tuhan, meninggalkan Alkitab berarti murtad dan sesat, dan bahkan ketika orang membaca buku-buku lain, landasan dari buku-buku ini haruslah merupakan penjelasan isi Alkitab. Dengan kata lain, jika engkau berkata bahwa engkau percaya kepada Tuhan, engkau harus membaca Alkitab, engkau harus makan dan minum Alkitab, dan selain Alkitab, engkau tidak boleh memuja buku lain yang tidak ada kaitannya dengan Alkitab. Jika engkau melakukannya, artinya engkau mengkhianati Tuhan. Sejak adanya Alkitab, kepercayaan orang kepada Tuhan adalah kepercayaan pada Alkitab. Daripada mengatakan orang percaya kepada Tuhan, lebih tepat mengatakan bahwa mereka percaya pada Alkitab; daripada mengatakan mereka telah mulai membaca Alkitab, akan lebih tepat mengatakan mereka telah mulai percaya pada Alkitab; dan daripada mengatakan mereka telah kembali ke hadirat Tuhan, akan lebih tepat mengatakan mereka telah kembali ke hadirat Alkitab. Dengan begitu, orang memuja Alkitab seakan-akan Alkitab adalah Tuhan, seakan-akan Alkitab itulah inti kehidupannya, dan kehilangan Alkitab sama artinya dengan kehilangan hidupnya. Orang menganggap Alkitab sama tingginya dengan Tuhan, bahkan ada orang yang menganggapnya lebih tinggi daripada Tuhan. Jika orang tidak memiliki pekerjaan Roh Kudus, jika orang tidak bisa merasakan Tuhan, mereka tetap bisa hidup—tetapi begitu mereka kehilangan Alkitab, atau kehilangan pasal dan kata-kata terkenal dari Alkitab, mereka merasa seperti kehilangan hidup. Jadi, begitu orang mulai percaya kepada Tuhan, mereka mulai membaca Alkitab, dan menghafalkannya, dan semakin banyak mereka bisa menghafalkannya, semakin ini membuktikan bahwa mereka mengasihi Tuhan dan memiliki iman yang besar. Mereka yang telah membaca Alkitab dan bisa membicarakannya dengan orang lain akan dianggap saudara-saudari yang baik. Selama bertahun-tahun, iman dan kesetiaan orang kepada Tuhan diukur seturut tingkat pemahamannya terhadap Alkitab. Sebagian besar orang tidak mengerti mengapa mereka harus percaya kepada Tuhan, atau bagaimana cara percaya kepada Tuhan, dan mereka tidak berbuat apa pun selain mencari petunjuk untuk mengartikan pasal-pasal Alkitab. Orang tidak pernah mengejar petunjuk dari pekerjaan Roh Kudus; sejak dahulu, mereka tidak berbuat apa pun selain giat mempelajari dan meneliti Alkitab, dan tidak ada di antara mereka yang pernah menemukan karya terbaru Roh Kudus di luar Alkitab. Tak ada juga di antara mereka yang menjauh atau berani menjauh dari Alkitab. Orang telah mempelajari Alkitab selama bertahun-tahun dan menghasilkan begitu banyak penjelasan, serta mencurahkan begitu banyak upaya untuk melakukannya. Mereka juga memiliki banyak perbedaan pendapat tentang Alkitab, yang mereka perdebatkan sedemikian rupa tanpa akhir—sehingga sekarang ini telah terbentuk lebih dari dua ribu denominasi yang berbeda. Mereka semua ingin menemukan penjelasan yang istimewa, atau misteri yang lebih besar di dalam Alkitab. Mereka ingin menyelidikinya, dan menemukan di dalamnya latar belakang pekerjaan Yahweh di Israel, atau latar belakang pekerjaan Yesus di Yudea, atau lebih banyak misteri yang tidak diketahui oleh orang lain. Pendekatan orang terhadap Alkitab adalah pendekatan obsesi dan iman, dan tidak seorang pun yang bisa sepenuhnya memahami kisah sebenarnya di balik Alkitab ataupun substansinya. Sekarang ini, orang masih memiliki perasaan ajaib yang tak bisa dijelaskan tentang Alkitab; bahkan lebih dari itu, mereka terobsesi olehnya, dan beriman kepadanya. Sekarang ini, setiap orang ingin menemukan berbagai nubuatan tentang pekerjaan akhir zaman dalam Alkitab. Mereka ingin menemukan pekerjaan apa yang dilakukan oleh Tuhan selama akhir zaman, dan apa sajakah tanda-tanda akhir zaman itu. Dengan demikian, pemujaan mereka kepada Alkitab menjadi lebih membara, dan semakin dekat akhir zaman, semakin besar kepercayaan yang mereka berikan kepada berbagai nubuatan dalam Alkitab, terutama tentang akhir zaman itu. Dengan kepercayaan dan keyakinan buta kepada Alkitab seperti ini, mereka tidak berhasrat untuk mencari pekerjaan Roh Kudus. Dalam pemahaman mereka, mereka pikir hanya Alkitablah yang bisa mendatangkan pekerjaan Roh Kudus; hanya di dalam Alkitablah mereka bisa menemukan jejak-jejak langkah Tuhan; hanya di dalam Alkitablah tersembunyi misteri pekerjaan Tuhan; hanya Alkitablah—bukan buku atau orang lain—yang bisa menjelaskan segala sesuatu tentang Tuhan dan keseluruhan pekerjaan-Nya; Alkitab bisa mendatangkan pekerjaan surga ke bumi; dan Alkitab bisa memulai sekaligus mengakhiri zaman. Dengan pemahaman seperti ini, orang tidak memiliki kecenderungan untuk mencari pekerjaan Roh Kudus. Jadi, terlepas dari seberapa besar Alkitab telah membantu manusia di masa lalu, Alkitab telah menjadi rintangan bagi pekerjaan terbaru Tuhan. Tanpa Alkitab, orang bisa mencari jejak langkah Tuhan di tempat lain, tetapi di masa ini, jejak langkah-Nya telah dikungkung oleh Alkitab, menjadikan perluasan pekerjaan terbaru-Nya dua kali lipat lebih sulit dan merupakan pergumulan berat. Semua ini dikarenakan oleh pasal-pasal dan kata-kata terkenal dari Alkitab serta berbagai nubuatan di dalamnya. Alkitab telah menjadi berhala di benak orang, ia telah menjadi teka-teki di otak mereka, dan mereka tidak sanggup untuk percaya bahwa Tuhan bisa bekerja terlepas dari Alkitab, mereka tidak sanggup untuk percaya bahwa orang bisa menemukan Tuhan di luar Alkitab, apalagi percaya bahwa Tuhan bisa meninggalkan Alkitab selama melakukan pekerjaan terakhir dan memulai pekerjaan yang baru. Ini tidak terpikirkan oleh orang-orang; mereka tidak bisa memercayainya, dan tidak bisa membayangkannya. Alkitab telah menjadi rintangan yang besar dalam hal penerimaan orang akan pekerjaan baru Tuhan, dan menjadi penghalang bagi usaha Tuhan untuk memperluas pekerjaan baru ini.

Dikutip dari “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Ingin belajar lebih banyak tentang misteri Alkitab? Di sini ada berisi artikel-artikel tentang nubuatan Alkitab, mengenal Kristus, gadis-gadis yang bijaksana, misteri kedatangan Tuhan, dan diangkat ke kerajaan surga untuk membantu Anda memahami misteri Alkitab.

Bencana sering terjadi di seluruh dunia, dan skala bencana-bencana tersebut semakin membesar, menandai datangnya akhir zaman. Alkitab berkata, “Tetapi kesudahan segala sesuatu sudah dekat” (1 Petrus 4:7). Kami tahu bahwa saat Tuhan datang kembali selama akhir zaman, Dia akan memberi upah kepada orang yang baik dan menghukum orang yang jahat serta menentukan akhir manusia. Jadi, bagaimana Dia akan memberi upah kepada orang yang baik dan menghukum orang yang jahat, dan bagaimana Dia akan menentukan akhir manusia?

Firman Tuhan yang Relevan:

Dalam pekerjaan terakhir-Nya untuk mengakhiri zaman, salah satu watak Tuhan ialah menghajar dan menghakimi. Dengan watak ini Dia menyingkapkan segala sesuatu yang tidak benar untuk menghakimi semua orang secara terbuka dan menyempurnakan mereka yang mengasihi-Nya dengan hati yang tulus. Watak seperti inilah yang dapat mengakhiri zaman. Akhir zaman telah tiba. Semua makhluk ciptaan akan dikelompokkan menurut jenis mereka, dan dibagi ke dalam kategori berbeda berdasarkan sifat mereka. Ini saat ketika Tuhan mengungkap kesudahan manusia dan tempat tujuan mereka. Jika manusia tidak mengalami hajaran dan penghakiman, tidak akan ada jalan untuk mengungkap ketidakpatuhan serta ketidakbenaran mereka. Hanya melalui hajaran dan penghakimanlah kesudahan semua makhluk ciptaan bisa diungkapkan. Manusia hanya menunjukkan watak aslinya ketika ia dihajar dan dihakimi. Yang jahat akan dikumpulkan bersama yang jahat, yang baik dengan yang baik, dan semua manusia akan dikelompokkan berdasarkan jenis mereka. Melalui hajaran dan penghakiman, kesudahan semua ciptaan akan diungkap, sehingga yang jahat bisa dihukum dan yang baik diberikan upah, dan semua orang menjadi tunduk di bawah kekuasaan Tuhan. Semua pekerjaan ini harus dicapai melalui hajaran dan penghakiman yang benar. Karena kerusakan manusia telah mencapai puncaknya dan ketidakpatuhan mereka semakin parah, hanya watak Tuhan yang benar, yang pada prinsipnya adalah termasuk hajaran dan penghakiman serta diungkapkan di akhir zaman—yang bisa benar-benar mengubahkan dan menyempurnakan manusia. Hanya watak ini yang bisa menyingkap kejahatan dan menghukum semua yang tidak benar dengan keras.

Lanjutkan membaca “Bencana sering terjadi di seluruh dunia, dan skala bencana-bencana tersebut semakin membesar, menandai datangnya akhir zaman. Alkitab berkata, “Tetapi kesudahan segala sesuatu sudah dekat” (1 Petrus 4:7). Kami tahu bahwa saat Tuhan datang kembali selama akhir zaman, Dia akan memberi upah kepada orang yang baik dan menghukum orang yang jahat serta menentukan akhir manusia. Jadi, bagaimana Dia akan memberi upah kepada orang yang baik dan menghukum orang yang jahat, dan bagaimana Dia akan menentukan akhir manusia?”

Firman Tuhan Harian – “Hanya Dengan Mengalami Ujian-Ujian yang Menyakitkan Engkau Semua Bisa Mengenal Kasih Tuhan” – Kutipan 505

Dalam saat teduh harian, belajar untuk merenungkan dan membaca firman Tuhan dengan doa, dan memahami makna firman Tuhan yang sebenarnya.

Sebenarnya, seberapa besar engkau mengasihi Tuhan sekarang ini? Dan seberapa banyak engkau mengetahui segala yang telah Tuhan lakukan dalam dirimu? Ini adalah hal-hal yang perlu engkau pelajari. Ketika Tuhan datang ke dunia, segala sesuatu yang telah Tuhan lakukan dalam diri manusia dan izinkan untuk manusia lihat adalah agar manusia bisa mengasihi-Nya dan benar-benar mengenal-Nya. Bahwa manusia mampu menderita bagi Tuhan dan dapat sampai sejauh ini, salah satu sebabnya, adalah karena kasih Tuhan, dan sebab lainnya, adalah karena keselamatan dari Tuhan; selain itu, ini adalah hasil dari penghakiman dan pekerjaan hajaran yang telah Tuhan lakukan dalam diri manusia. Jika engkau tidak mengalami penghakiman, hajaran, dan ujian dari Tuhan, dan jika Tuhan belum membuat engkau semua menderita, maka, jujur saja, engkau semua tidak benar-benar mengasihi Tuhan. Semakin besar pekerjaan Tuhan dalam diri manusia dan semakin besar penderitaan manusia, maka semakin menunjukkan seberapa bermaknanya pekerjaan Tuhan, dan semakin hati manusia itu mampu untuk benar-benar mengasihi Tuhan. Bagaimana engkau belajar mengasihi Tuhan? Tanpa siksaan dan pemurnian, tanpa ujian-ujian yang menyakitkan—dan apalagi, jika semua yang Tuhan berikan kepada manusia hanyalah kasih karunia, kasih, dan belas kasih—apakah engkau akan mampu mencapai titik di mana engkau benar-benar mengasihi Tuhan? Di satu sisi, selama ujian dari Tuhan, manusia menjadi mengenal kekurangan-kekurangannya, dan melihat bahwa ia tidak penting, hina, dan rendah, bahwa ia tidak memiliki apa-apa dan bukan apa-apa; di sisi lain, selama ujian-Nya Tuhan menciptakan lingkungan yang berbeda-beda bagi manusia yang membuatnya semakin mampu mengalami keindahan Tuhan. Walaupun kesengsaraan yang dialami berat, dan kadang kala tak tertahankan—bahkan mencapai tahap dukacita yang meremukkan—setelah mengalaminya, manusia melihat betapa indahnya pekerjaan Tuhan dalam dirinya, dan hanya di atas dasar ini, lahirlah dalam diri manusia kasih yang sejati kepada Tuhan. Sekarang ini manusia melihat bahwa dengan kasih karunia, kasih, dan belas kasih Tuhan saja, ia tidak mampu benar-benar mengenal dirinya sendiri, apalagi mengetahui esensi manusia. Hanya melalui pemurnian dan penghakiman dari Tuhan, dan dalam proses pemurnian itu sendiri, manusia bisa mengenal kekurangan-kekurangannya, dan mengetahui bahwa ia tidak memiliki apa-apa. Maka, kasih manusia akan Tuhan dibangun atas dasar pemurnian dan penghakiman Tuhan. Jika engkau hanya menikmati kasih karunia Tuhan, memiliki kehidupan keluarga yang penuh damai atau berkat secara materi, berarti engkau belum mendapatkan Tuhan, dan keyakinanmu kepada Tuhan tidak bisa dikatakan berhasil. Tuhan telah menjalankan satu tahap pekerjaan kasih karunia dalam daging, dan telah memberikan berkat-berkat materi kepada manusia, tetapi manusia tidak bisa disempurnakan hanya dengan kasih karunia, kasih, dan belas kasih saja. Dalam pengalaman-pengalamannya, manusia mengalami sebagian kasih Tuhan, dan melihat kasih dan belas kasih Tuhan, tetapi setelah mengalaminya selama beberapa waktu, ia melihat bahwa kasih karunia dan kasih dan belas kasih Tuhan tidak mampu membuat manusia sempurna, tidak mampu menyingkapkan apa yang rusak dalam diri manusia, dan tidak mampu menghilangkan watak manusia yang rusak, atau menyempurnakan kasih dan imannya. Pekerjaan kasih karunia Tuhan adalah pekerjaan satu periode, dan manusia tidak dapat menggantungkan diri pada menikmati kasih karunia Tuhan untuk mengenal-Nya.

Lanjutkan membaca “Firman Tuhan Harian – “Hanya Dengan Mengalami Ujian-Ujian yang Menyakitkan Engkau Semua Bisa Mengenal Kasih Tuhan” – Kutipan 505″

Firman Tuhan Harian – “Esensi Daging yang Didiami oleh Tuhan” – Kutipan 104

Renungan firman Tuhan Kristen mengungkapkan rahasia untuk Anda, dan membiarkan Anda memahami arti inkarnasi Tuhan untuk melakukan pekerjaan keselamatan.

Mengapa Aku katakan bahwa makna inkarnasi tidak diselesaikan dalam pekerjaan Yesus? Karena Firman tidak sepenuhnya menjadi daging. Apa yang Yesus lakukan hanyalah satu bagian dari pekerjaan Tuhan dalam daging. Ia hanya melakukan pekerjaan penebusan dan bukan pekerjaan untuk sepenuhnya mendapatkan manusia. Untuk alasan ini, Tuhan telah menjadi daging sekali lagi di akhir zaman. Tahap pekerjaan ini juga dilakukan dalam daging biasa, dilakukan oleh manusia yang benar-benar normal, yang kemanusiaannya sama sekali tidak transenden. Dengan kata lain, Tuhan telah menjadi manusia yang seutuhnya, menjadi seseorang yang identitasnya adalah Tuhan, seorang manusia yang utuh, daging yang utuh, yang melakukan pekerjaan. Di mata manusia, Ia hanyalah daging yang sama sekali tidak transenden, seseorang yang sangat biasa yang dapat berbicara bahasa surgawi, yang tidak menunjukkan tanda-tanda ajaib, tidak melakukan mukjizat, apalagi mengungkapkan kebenaran terdalam mengenai agama di ruang-ruang pertemuan besar. Pekerjaan dari daging inkarnasi kedua tampak bagi orang-orang sama sekali berbeda dengan yang pertama, sedemikian berbedanya sehingga keduanya tampak tidak memiliki kesamaan sama sekali, dan tidak ada apa pun dari pekerjaan pertama yang dapat terlihat saat ini. Meskipun pekerjaan dari daging inkarnasi yang kedua berbeda dengan yang pertama, hal itu tidak membuktikan bahwa sumber Mereka bukanlah satu dan sama. Apakah sumber Mereka sama tergantung pada sifat dari pekerjaan yang dilakukan oleh daging tersebut dan bukan pada kulit luar Mereka. Selama tiga tahap pekerjaan-Nya, Tuhan telah berinkarnasi dua kali dan kedua pekerjaan Tuhan yang berinkarnasi meresmikan dimulainya zaman yang baru, mengantarkan dimulainya pekerjaan yang baru; inkarnasi saling melengkapi satu dengan yang lain. Tidaklah mungkin bagi mata manusia untuk mengetahui bahwa kedua daging sebenarnya berasal dari sumber yang sama. Tak perlu dikatakan, semua itu di luar kemampuan mata atau pikiran manusia. Tetapi secara hakikat, Mereka adalah sama, karena pekerjaan Mereka berasal dari Roh yang sama. Apakah kedua daging inkarnasi muncul dari sumber yang sama tidaklah dapat dinilai oleh zaman dan tempat di mana Mereka dilahirkan, atau oleh faktor-faktor lain semacam itu, tetapi oleh pekerjaan ilahi yang diungkapkan oleh Mereka. Daging inkarnasi kedua tidak melakukan apa pun dari pekerjaan Yesus, karena pekerjaan Tuhan tidak mematuhi aturan apa pun, tetapi setiap kali pekerjaan itu membukakan jalan yang baru. Daging inkarnasi yang kedua tidak bertujuan untuk memperdalam atau memantapkan kesan daging yang pertama dalam pikiran manusia, tetapi untuk melengkapi dan menyempurnakannya, untuk memperdalam pengetahuan manusia akan Tuhan, mematahkan segala aturan yang ada dalam hati orang, dan menghapuskan gambaran Tuhan yang keliru dalam hati mereka. Dapat dikatakan bahwa tidak ada satu tahap pun dari pekerjaan Tuhan itu sendiri yang dapat memberi kepada manusia pengetahuan yang lengkap tentang Dia. Masing-masing hanya memberi sebagian, bukan keseluruhan. Meskipun Tuhan telah menyatakan watak-Nya secara penuh, oleh karena terbatasnya kemampuan pemahaman manusia, pengetahuannya akan Tuhan masih tetap tidak lengkap. Tidak mungkin, dengan menggunakan bahasa manusia, menyampaikan keseluruhan watak Tuhan; bagaimana mungkin satu tahap dari pekerjaan-Nya bisa menyatakan tentang Tuhan sepenuhnya? Ia bekerja dalam daging dalam kemanusiaan normal-Nya, dan orang hanya dapat mengenal-Nya melalui ekspresi keilahian-Nya, bukan melalui kulit luar tubuh-Nya. Tuhan datang ke dalam daging demi memungkinkan manusia mengenal-Nya melalui pekerjaan-Nya yang beragam, dan kedua tahap pekerjaan-Nya itu tidak serupa. Hanya dengan cara inilah, manusia dapat memiliki pengetahuan yang penuh tentang pekerjaan Tuhan dalam daging, tidak terbatas pada satu segi saja. Meskipun pekerjaan kedua daging inkarnasi berbeda, hakikat dari daging, dan sumber pekerjaan Mereka, adalah identik. Hanya saja, Mereka ada untuk melakukan dua tahap pekerjaan yang berbeda, dan muncul di dua zaman yang berbeda. Tak peduli apa pun itu, daging inkarnasi Tuhan memiliki hakikat dan asal yang sama—ini adalah kebenaran yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun.

Lanjutkan membaca “Firman Tuhan Harian – “Esensi Daging yang Didiami oleh Tuhan” – Kutipan 104″

Apakah Orang Yang Sering Berdosa Bisa Masuk ke Kerajaan Surga

Bagaimana diangkat oleh Tuhan

Ketika berbicara memasuki kerajaan surga, percaya bahwa ini adalah harapan terbesar setiap orang percaya.Tetapi saat menunggu Tuhan menjemput kita dan masuk ke kerajaan surga, beberapa orang akan bingung: Tuhan itu kudus dan kita masing sering berdosa, hidup dalam lingkaran dosa, tidak dapat menerapkan ajaran Tuhan, apakah memenuhi syarat untuk masuk kerajaan surga? Sebenarnya, pertanyaan ini sangat krusial, dan ini berkaitan langsung dengan takdir kita. Lantas, bisakah orang yang sering berdosa masuk ke kerajaan surga? Orang macam apa yang bisa masuk kerajaan surga? Mari kita bicarakan bersama.

Lanjutkan membaca “Apakah Orang Yang Sering Berdosa Bisa Masuk ke Kerajaan Surga”