Sebutir benih kecil jatuh ke tanah. Sehabis hujan deras menerpa, benih itu menumbuhkan tunas yang rapuh dan akarnya menyebar perlahan ke tanah di bawahnya. Tunas itu tumbuh tinggi pada waktunya, menantang kejamnya angin dan derasnya terpaan hujan, menyaksikan perubahan musim sementara bulan berganti purnama dan mengecil. Di musim panas, tanah menghadiahkan banyak air sehingga tunas bisa bertahan menghadapi panas terik. Dan karena tanah itu, tunas tidak merasakan panas dan karena itu mampu bertahan dari teriknya musim panas. Kala musim dingin tiba, tanah menyelimuti tunas dalam dekapan hangatnya dan mereka saling berpagut erat. Karena kehangatan tanah, tunas itu selamat dari hawa dingin yang menggigit, tanpa terluka melewati cuaca dingin dan turunnya salju di musim itu. Dilindungi oleh tanah, tunas tumbuh dengan gagah berani dan bahagia. Ia tumbuh menjadi tinggi dan berbangga hati karena perawatan tanpa pamrih yang disediakan tanah. Tunas itu tumbuh dengan gembira. Ia bernyanyi kala hujan memercik turun seraya menari dan bergoyang kala angin bertiup. Dan demikianlah, tunas dan tanah bergantung satu sama lain …
Lanjutkan membaca “Cerita 1. Benih, Tanah, Pohon, Sinar Matahari, Burung Penyanyi, dan Manusia” →