“Mengenal Tuhan adalah Jalan Menuju Takut Akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan” – Kutipan 4

Firman Tuhan adalah bantuan kita setiap saat. Kita membutuhkan persediaan dan makanan Firman Tuhan setiap hari, sehingga kita dapat memiliki jalan keluar.

Apabila, dalam hal seorang manusia yang telah mengikuti Tuhan selama bertahun-tahun dan telah menikmati perbekalan firman-Nya selama bertahun-tahun, pengenalannya akan Tuhan, pada intinya, sama dengan seseorang yang bersujud menyembah di hadapan berhala, maka ini artinya orang ini belum mencapai kenyataan firman Tuhan. Ini karena ia hanya belum memasuki kenyataan firman Tuhan, dan untuk alasan ini kenyataan, kebenaran, maksud, dan tuntutan atas manusia, semua yang melekat pada firman Tuhan, tidak ada kaitan sama sekali dengannya. Dengan kata lain, tidak peduli seberapa keras orang ini bekerja atas makna permukaan dari firman Tuhan, semuanya sia-sia: Karena yang ia kejar hanyalah kata-kata semata, apa yang ia dapatkan dengan demikian hanyalah kata-kata juga. Apakah dari tampilan luarnya firman yang dinyatakan Tuhan sederhana atau sulit dimengerti, ini adalah kebenaran yang sangat diperlukan manusia saat ia memasuki kehidupan; firman tersebut adalah sumber air kehidupan yang memungkinkannya bertahan hidup baik secara roh maupun daging. Firman tersebut menyediakan apa yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup; dogma dan kepercayaan untuk menjalani kehidupannya sehari-hari; jalan, sasaran, dan arah yang harus ia lalui untuk mendapatkan keselamatan; setiap kebenaran yang harus ia miliki sebagai makhluk ciptaan di hadapan Tuhan; dan setiap kebenaran tentang bagaimana manusia menaati dan menyembah Tuhan. Firman tersebut adalah penjamin yang memastikan keberlangsungan hidup manusia, juga merupakan roti untuk makanan sehari-sehari manusia, serta penopang kokoh yang memampukan manusia untuk menjadi kuat dan berdiri tegak. Firman tersebut kaya akan kebenaran tentang kemanusiaan normal sebagaimana dihidupi oleh manusia ciptaan, kaya akan kebenaran yang oleh karenanya manusia bebas dari kerusakan dan terelak dari jerat Iblis, kaya akan pengajaran tanpa henti, nasihat, dorongan, dan penghiburan yang diberikan Sang Pencipta kepada manusia ciptaan. Firman tersebut adalah menara yang membimbing dan mencerahkan manusia untuk memahami segala hal yang positif, jaminan yang memastikan bahwa manusia akan hidup dan memiliki segala hal yang benar dan baik, tolak ukur yang digunakan untuk mengukur orang-orang, peristiwa-peristiwa, dan benda-benda, dan juga penanda navigasi yang memimpin manusia kepada keselamatan dan jalan terang. Hanya dalam pengalaman nyata akan firman Tuhan, manusia akan dibekali dengan kebenaran dan kehidupan; hanya oleh pengalaman inilah ia akan menjadi mengerti apa itu kemanusiaan normal, apa itu kehidupan yang bermakna, apa itu makhluk ciptaan yang sejati, apa itu ketaatan yang nyata kepada Tuhan; hanya oleh pengalaman inilah ia akan mengerti bagaimana ia mesti peduli akan Tuhan; bagaimana memenuhi kewajibannya sebagai makhluk ciptaan, dan bagaimana menjadi serupa dengan manusia sejati; hanya dengan pengalaman inilah ia menjadi mengerti apa yang dimaksud dengan iman dan penyembahan yang sejati; hanya dengan pengalaman ini ia mengerti siapa Penguasa surga dan bumi dan segala sesuatu; hanya dengan pengalaman inilah ia menjadi mengerti cara yang digunakan oleh Ia yang adalah Penguasa segala ciptaan dalam memerintah, memimpin, dan membekali ciptaan-Nya; dan hanya dengan pengalaman inilah ia menjadi mengerti dan paham bagaimana Ia—yang merupakan Penguasa segala ciptaan—ada, menjadi perwujudan nyata, dan bekerja…. Terpisah dari pengalaman nyata akan firman Tuhan, manusia tidak mempunyai pengetahuan atau wawasan nyata akan firman dan kebenaran Tuhan. Manusia yang demikian adalah mayat hidup, cangkang kosong, dan segala pengetahuan yang berkaitan dengan Sang Pencipta tidak ada kaitannya sama sekali dengannya. Di mata Tuhan, manusia seperti ini tidak pernah percaya kepadanya, ataupun mengikuti-Nya, sehingga Tuhan tidak mengakuinya sebagai orang yang percaya ataupun pengikut-Nya, apalagi mengakuinya sebagai makhluk ciptaan yang sejati.

Dikutip dari “Mengenal Tuhan adalah Jalan Menuju Takut akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan”

Firman Tuhan Hari Ini – “Mengenal Tuhan adalah Jalan Menuju Takut Akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan” – Kutipan 3

Firman Tuhan adalah kebenaran, ungkapan dari watak Tuhan, dan ungkapan dari kehidupan Tuhan. Klik untuk membaca Firman Tuhan, sehingga Anda dapat memahami kehendak Tuhan dengan lebih baik, sehingga Anda dapat mengenal Tuhan dan menjadi orang yang berkenan di hati Tuhan.

Banyak orang mengangkat tinggi firman Tuhan dan membaca firman tersebut setiap harinya, bahkan sampai pada tahap dengan sangat terperinci menghafal semua bagian yang klasik di dalamnya sebagai harta yang paling berharga, terlebih lagi mengkhotbahkan firman Tuhan di mana-mana, membekali dan membantu orang lain dengan sarana firman-Nya. Mereka berpikir bahwa dengan melakukan ini, mereka sedang bersaksi bagi Tuhan, bersaksi tentang firman-Nya, bahwa dengan melakukan ini artinya mereka mengikuti jalan Tuhan; mereka berpikir bahwa melakukan ini sama artinya dengan hidup oleh firmannya, bahwa melakukan ini berarti menerapkan firman Tuhan dalam kehidupan nyata, bahwa melakukan ini akan memungkinkan mereka untuk menerima pujian Tuhan, dan diselamatkan dan disempurnakan. Tapi, bahkan saat mereka mengkhotbahkan firman Tuhan, mereka tidak pernah menaati firman Tuhan dalam penerapannya, atau mencoba membuat diri mereka sejalan dengan apa yang diungkapkan dalam firman Tuhan. Malahan, mereka menggunakan firman Tuhan demi mendapatkan pujaan dan kepercayaan orang lain lewat tipu daya, demi memasuki pengelolaan dengan upaya mereka sendiri, lalu menggelapkan dan mencuri kemuliaan Tuhan. Harapan sia-sia mereka adalah menggunakan kesempatan yang datang melalui penyebaran firman Tuhan agar dihadiahi pekerjaan Tuhan dan pujian dari-Nya. Bertahun-tahun telah lewat, tapi orang-orang ini bukan hanya tak sanggup mendapatkan pujian Tuhan dalam proses mengkhotbahkan firman-Nya, dan mereka bukan hanya tak sanggup menemukan jalan yang seharusnya mereka ikuti dalam proses bersaksi atas firman Tuhan, dan mereka bukan hanya tidak menunjang atau membekali diri mereka sendiri dalam proses menunjang dan membekali orang lain dengan sarana firman Tuhan, dan mereka bukan hanya tak sanggup mengenal Tuhan, atau membangkitkan dalam diri mereka penghormatan yang sejati terhadap Tuhan, dalam proses melakukan semua hal ini; malahan sebaliknya, kesalahpahaman mereka akan Tuhan semakin menjadi-jadi, ketidakpercayaan mereka terhadap-Nya menjadi semakin mendalam, dan bayangan mereka tentang-Nya menjadi terlalu dilebih-lebihkan. Dibekali dan dibimbing oleh teori-teori mereka tentang firman Tuhan, mereka nampak seolah benar-benar piawai, seakan kecakapan mereka bisa dilakukan dengan mudahnya, seakan mereka telah menemukan tujuan hidup mereka, misi mereka, dan seakan mereka telah memenangkan hidup baru dan telah diselamatkan, seolah-olah jika firman Tuhan bisa terlafal mulus dari ujung lidah mereka, mereka telah mendapatkan jalan masuk ke dalam kebenaran, memahami maksud Tuhan, dan menemukan jalan untuk mengenal Tuhan, seolah-olah, dalam proses mengkhotbahkan firman Tuhan, mereka sering bertatap muka dengan Tuhan. Lalu, mereka juga sering merasa “tergerak” untuk meratap-ratap, dan, seringkali oleh pimpinan “Tuhan” dalam firman-Nya, mereka nampak tak henti-hentinya menggenggam perhatian tulus dan maksud baik Tuhan, dan pada saat yang sama telah menggenggam keselamatan manusia dan pengelolaan Tuhan, dan telah mengetahui esensi-Nya, dan telah mengerti watak-Nya yang benar. Berdasarkan asas ini, mereka nampak semakin percaya akan keberadaan Tuhan, nampak lebih sadar akan kemuliaan-Nya, dan semakin merasakan keagungan dan keluarbiasaan-Nya. Terpaku pada pengetahuan dangkal akan firman Tuhan, iman mereka nampak seperti telah bertumbuh, ketetapan hati mereka untuk memikul penderitaan nampak telah bertambah kuat, dan pengenalan mereka akan Tuhan nampak semakin mendalam. Mereka tidak tahu bahwa, sebelum mereka benar-benar mengalami firman Tuhan, semua pengetahuan dan pemikiran mereka tentang-Nya hanya datang dari angan-angan dan rekaan belaka. Iman mereka tidak akan tahan terhadap ujian apa pun dari Tuhan, yang disebut kerohanian dan tingkat pertumbuhan mereka tidak akan bertahan oleh ujian dan pemeriksaan Tuhan, ketetapan hati mereka hanyalah istana yang dibangun di atas pasir, dan yang disebut pengenalan mereka akan Tuhan tidak lebih dari serpihan imajinasi mereka. Faktanya, orang-orang ini, yang nampak telah mengerahkan segenap upaya mereka ke dalam firman Tuhan, tidak pernah sungguh-sungguh menyadari apa itu iman yang nyata, apa itu ketundukan yang nyata, apa itu kepedulian yang nyata, atau apa itu pengenalan yang nyata akan Tuhan. Mereka menggunakan teori, imajinasi, pengetahuan, pemberian, tradisi, takhayul, dan bahkan nilai moral kemanusiaan, dan menjadikan hal-hal tersebut “modal investasi” dan “senjata militer” untuk memercayai dan mengejar Tuhan, bahkan menjadikan hal-hal tersebut landasan kepercayaan dan pengejaran mereka akan Dia. Pada saat yang sama, modal dan persenjataan ini juga mereka jadikan sebagai jimat gaib untuk mengenal Tuhan, bertemu Tuhan, dan bergumul dengan pemeriksaan, ujian, hajaran, dan penghakiman Tuhan. Pada akhirnya, yang mereka kumpulkan tetap tidak lebih dari kesimpulan tentang Tuhan yang terpaku pada konotasi keagamaan, pada takhayul feodal, dan segala hal yang berdasarkan perasaan, tidak masuk akal, dan penuh teka-teki. Cara mereka mengenal dan mengartikan Tuhan dibuat dalam cetakan yang sama dengan orang-orang yang hanya percaya dengan konsep Surga di Atas Sana, atau Orang Tua di Langit, sedangkan kenyataan Tuhan, esensi-Nya, watak-Nya, kepunyaan dan keberadaan-Nya, dan hal-hal lainnya—semua yang berkaitan dengan Tuhan yang nyata itu sendiri—adalah hal-hal yang gagal dicerna oleh pengetahuan mereka, dianggap sama sekali tidak ada kaitannya bahkan dipandang sama sekali berlawanan dengan Tuhan. Dengan cara ini, walaupun mereka hidup dari perbekalan dan makanan firman Tuhan, mereka tetap tidak bisa menapaki jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Alasan sebenarnya di balik ini adalah bahwa mereka tidak pernah kenal dengan Tuhan, dan mereka juga tidak pernah mempunyai hubungan maupun persekutuan yang sejati dengan-Nya, sehingga mustahil bagi mereka untuk mencapai pemahaman bersama dengan Tuhan, atau membangkitkan dalam diri mereka sebuah kepercayaan, pencarian, ataupun penyembahan sejati terhadap Tuhan. Bahwa mereka harus memandang firman Tuhan, bahwa mereka harus memandang Tuhan—cara pandang dan sikap ini telah menakdirkan mereka pulang dengan tangan hampa dari usaha keras mereka, menjauhkan mereka hingga kekekalan dari jalan untuk takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Sasaran yang ingin mereka capai, arah yang ingin mereka tuju, menunjukkan bahwa mereka adalah musuh-musuh Tuhan dalam kekekalan, dan dalam kekekalan juga mereka tidak akan pernah bisa menerima keselamatan.

Dikutip dari “Mengenal Tuhan adalah Jalan Menuju Takut akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan”

Halaman Firman Tuhan Hari ini memungkinkan Anda untuk membaca lebih banyak kata-kata Tuhan dan memahami kehendak Tuhan.

Firman Tuhan Hari Ini – “Mengenal Tuhan adalah Jalan Menuju Takut Akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan” – Kutipan 2

Halaman daftar firman Tuhan hari ini bagikan Firman Tuhan dengan Anda, bantu pertumbuhan kehidupan setiap orang Kristen, dan semakin memahami Tuhan!

Kepunyaan dan keberadaan Tuhan, esensi Tuhan, watak Tuhan—semuanya telah diberitahukan kepada umat manusia dalam firman-Nya. Ketika ia mengalami firman Tuhan, manusia dalam proses melaksanakannya akan mengerti tujuan di balik firman yang dinyatakan Tuhan, mengerti sumber dan latar belakang firman Tuhan, serta mengerti dan menghargai dampak yang dikehendaki dari firman Tuhan. Bagi umat manusia, inilah semua hal yang harus dialami, dipahami, dan dimasuki oleh manusia supaya bisa terhubung dengan kebenaran dan kehidupan, memahami maksud Tuhan, diubahkan wataknya, dan bisa tunduk kepada kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Pada saat yang sama manusia mengalami, memahami, dan memasuki hal-hal tersebut, secara bertahap ia akan mendapatkan pemahaman akan Tuhan, dan pada saat itu ia juga akan mendapatkan pengenalan akan-Nya dalam tingkat yang berbeda. Pemahaman dan pengenalan ini tidak datang dari hal yang dibayangkan atau dibuat manusia, melainkan dari apa yang ia hargai, alami, rasakan, dan pertegas dalam dirinya sendiri. Hanya ketika ia telah menghargai, mengalami, merasakan, dan mempertegas hal-hal inilah pengenalan manusia akan Tuhan memiliki bobot, hanya pengetahuan yang ia dapatkan pada saat inilah yang aktual, nyata, dan akurat, dan proses ini—mendapatkan pengertian dan pengenalan sejati akan Tuhan melalui penghargaan, pengalaman, perasaan, dan penegasan firman-Nya—tidak lain merupakan persekutuan sejati antara manusia dan Tuhan. Di tengah persekutuan seperti ini, manusia menjadi sungguh-sungguh mengerti dan memahami maksud Tuhan, menjadi sungguh-sungguh mengerti dan mengetahui kepunyaan dan keberadaan Tuhan, menjadi benar-benar mengerti dan mengetahui esensi Tuhan, perlahan-lahan mengerti dan mengetahui watak Tuhan, mencapai kepastian yang nyata, dan definisi yang benar akan fakta mengenai kekuasaan Tuhan di atas segala ciptaan, serta mendapat pengenalan dan kaitan yang benar antara jati diri dan kedudukan Tuhan. Di tengah persekutuan seperti ini, manusia sedikit demi sedikit mengubah pemikirannya tentang Tuhan, tidak lagi membayangkan-Nya dari ketiadaan, atau berprasangka terhadap-Nya, atau menyalahpahami-Nya, atau mengutuki-Nya, atau menghakimi-Nya, atau meragukan-Nya. Akibatnya, manusia akan jarang berdebat dengan Tuhan, ia akan jarang berkonflik dengan Tuhan, dan akan ada lebih sedikit kejadian di mana ia memberontak terhadap Tuhan. Sebaliknya, kepedulian dan ketundukan manusia terhadap Tuhan akan semakin bertumbuh, dan rasa hormat-Nya terhadap Tuhan akan semakin nyata sekaligus semakin dalam. Di tengah persekutuan yang seperti ini, manusia tidak hanya akan memeroleh perbekalan kebenaran dan baptisan kehidupan, tetapi di saat yang sama juga mendapatkan pengenalan yang sejati akan Tuhan. Di tengah persekutuan yang seperti ini, manusia tidak akan hanya diubahkan wataknya dan menerima keselamatan, tetapi di saat yang sama ia juga akan memberikan penghormatan dan penyembahan yang sejati terhadap Tuhan sebagai makhluk ciptaan. Dengan memiliki persekutuan yang seperti ini, iman manusia terhadap Tuhan tidak lagi serupa kertas kosong, atau janji manis belaka, atau berupa pengejaran dan pemberhalaan buta; hanya dengan persekutuan yang seperti inilah kehidupan manusia akan bertumbuh hari demi hari menuju kedewasaan, dan hanya pada saat itulah wataknya akan perlahan-lahan diubahkan, dan imannya kepada Tuhan selangkah demi selangkah akan berubah dari kepercayaan yang samar dan tidak pasti menjadi ketundukan dan kepedulian sejati, menjadi penghormatan yang nyata; manusia juga akan, dalam pengejarannya terhadap Tuhan, secara bertahap berubah dari pasif menjadi aktif, dari orang yang menerima tindakan menjadi orang yang mengambil tindakan positif; hanya dengan persekutuan yang seperti inilah manusia bisa mencapai pengertian dan pemahaman sejati akan Tuhan, pengenalan sejati akan Tuhan. Karena kebanyakan orang tidak pernah memasuki persekutuan yang sejati dengan Tuhan, pengenalan mereka tentang Tuhan hanya sampai sebatas teori, di tingkat huruf dan doktrin. Dengan kata lain, tidak peduli sudah berapa lama mereka percaya kepada Tuhan, kebanyakan orang dalam hal mengenal Tuhan masih ada di tempat di mana mereka mulai dulu, terpaku pada bentuk-bentuk pemujaan tradisional, terjebak dalam warna-warni legenda dan takhayul feodal. Bahwasanya pengenalan manusia akan Tuhan harus terhenti di titik mulainya berarti pengenalan itu dapat dikatakan tidak ada. Terlepas dari afirmasi manusia akan kedudukan dan jati diri Tuhan, iman manusia kepada Tuhan masih dalam tahap ketidakpastian yang samar. Dengan demikian, seberapakah penghormatan sejati terhadap Tuhan yang dapat dimiliki manusia?

Tidak peduli seberapa teguh engkau percaya akan keberadaan-Nya, ini tidak bisa menggantikan pengenalanmu akan Tuhan, ataupun juga penghormatanmu terhadap Tuhan. Tidak peduli seberapa banyak berkat dan kasih karunia-Nya yang telah engkau nikmati, ini tidak dapat menggantikan pengenalanmu akan Tuhan. Tidak peduli seberapa besar keinginan dan hasratmu untuk menguduskan dirimu dan memberikan semua kepunyaanmu demi Dia, ini tidak dapat menggantikan pengenalanmu akan Tuhan. Mungkin engkau telah menjadi terlalu terbiasa dengan firman yang Ia ucapkan, atau mungkin menghafalnya sampai bisa melafalkannya terbalik, tetapi ini tidak dapat menggantikan pengenalan akan Tuhan. Apa pun niat manusia dalam mengikuti Tuhan, jika Ia tidak pernah mengalami persekutuan yang sejati dengan Tuhan, atau benar-benar mengalami firman Tuhan, maka pengenalannya akan Tuhan tidak akan lebih dari kekosongan belaka atau lamunan tak berujung; bagi engkau semua yang merasa pernah “bersentuhan bahu” dengan Tuhan dalam perjalananmu, atau merasa pernah bertatap muka langsung dengan-Nya, pengenalanmu akan Tuhan tetaplah nol, dan penghormatanmu terhadap Tuhan tidak lebih dari sekadar slogan kosong atau bualan semata.

Dikutip dari “Mengenal Tuhan adalah Jalan Menuju Takut akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan”

Kunci Terpenting untuk Menyambut Tuhan, Mendengar Suara Tuhan

Gadis Bijaksana

Catata editor: Sekarang bencana sering terjadi, dan nubuat kedatangan Tuhan pada dasarnya telah digenapi, apakah Anda ingin menyambut Tuhan? Bagaimana cara yang benar untuk menyambut kedatangan Tuhan? Bagaimana kita bisa menyambut Tuhan? Konten berikut akan memberi tahu Anda jawabannya, sehingga Anda dapat mendengar suara Tuhan secepat mungkin untuk menyambut Tuhan.

Lanjutkan membaca “Kunci Terpenting untuk Menyambut Tuhan, Mendengar Suara Tuhan”

“Manusia yang Rusak Lebih Membutuhkan Keselamatan dari Tuhan yang Berinkarnasi” – Kutipan 121

Firman Tuhan adalah kebenaran, ungkapan dari watak Tuhan, dan ungkapan dari kehidupan Tuhan. Klik untuk membaca Firman Tuhan, sehingga Anda dapat memahami kehendak Tuhan dengan lebih baik, sehingga Anda dapat mengenal Tuhan dan menjadi orang yang berkenan di hati Tuhan.

Halaman daftar firman Tuhan hari ini bagikan Firman Tuhan dengan Anda, bantu pertumbuhan kehidupan setiap orang Kristen, dan semakin memahami Tuhan!

“Manusia yang Rusak Lebih Membutuhkan Keselamatan dari Tuhan yang Berinkarnasi” – Kutipan 119

Firman Tuhan adalah sumber air kehidupan. Membaca satu bab firman Tuhan setiap hari yang akan memungkinkan Anda untuk memperoleh penyiraman dan makanan oleh air kehidupan, sehingga kehidupan rohani akan berkembang.

Halaman Firman Tuhan Hari ini memungkinkan Anda untuk membaca lebih banyak kata-kata Tuhan dan memahami kehendak Tuhan. Klik tautan untuk membacanya.

Mengenal Apa Itu kebenaran Baru Dapat Menyambut Tuhan

Apakah itu kebenaran? Apa hubungan kebenaran dengan menyambut kembalinya Tuhan? Sebenarnya, Tuhan Yesus telah menubuatkan: “Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu” (Yohanes 16:12-13). Kitab Wahyu pasal 2 dan 3 juga menubuatkan berkali-kali:”Barang siapa memiliki telinga, hendaklah dia mendengarkan apa yang diucapkan Roh kepada gereja-gereja.” Dari nubuatan itu, kita dapat melihat bahwa Tuhan di akhir zaman akan berfirman dan membimbing manusia memahami semua kebenaran. Jika kita ingin menyambut Tuhan, kita harus tahu apa itu kebenaran. Jika kita tidak tahu apa itu kebenaran, akan sulit untuk menyambut Tuhan. Sama seperti ketika Tuhan Yesus pertama kali datang bekerja, Dia memberi orang jalan pertobatan, mengungkapkan kebenaran untuk menyediakan dan menggembalakan manusia, dan menyelesaikan kesulitan praktis manusia. Tetapi orang-orang Farisi yang hafal dengan Alkitab tidak tahu apa itu kebenaran, dan mereka mengutuk Tuhan Yesus karena mengatakan hal-hal yang sombong, dan bahkan memakukan Tuhan Yesus yang mengungkapkan kebenaran di kayu salib, akhirnya mereka dihukum dan dikutuk oleh Tuhan. Dapat dilihat bahwa mengetahui apa itu kebenaran terlalu penting bagi kita, dan itu terkait langsung dengan akhir kita. Jadi, apa sebenarnya itu kebenaran? Bagaimana kita bisa mengetahui kebenaran dan menyambut Tuhan? Mari kita bicarakan bersama.

Lanjutkan membaca “Mengenal Apa Itu kebenaran Baru Dapat Menyambut Tuhan”

Lagu Rohani Kristen 2020 – Orang-orang yang Tidak Bertobat yang Terperangkap dalam Dosa Tidak Dapat Diselamatkan

Kolom lagu pujian firman tuhan mencakup kumpulan lagu pujian, lagu tunggal dll. Mendengarkan dengan tenang, membuat Anda memahami kehendak Tuhan dan tuntutan-Nya dan lebih akrab dengan Tuhan.

Orang yang hanya memikirkan daging,
yang imannya tak menentu,
yang melakukan sihir dan mantra,
yang amoral, compang-camping,
yang mencuri korban dari Tuhan,
yang suka suap atau mimpikan surga,
yang congkak dan sombong,
berjuang ‘tuk kemahsyuran,
yang sebarkan kata tak sopan,
orang yang tak bertobat,
terperangkap dosa,
bukankah tak dapat dis’lamatkan?
orang yang tak bertobat,
terperangkap dosa,
bukankah tak dapat dis’lamatkan?

Lanjutkan membaca “Lagu Rohani Kristen 2020 – Orang-orang yang Tidak Bertobat yang Terperangkap dalam Dosa Tidak Dapat Diselamatkan”

“Manusia yang Rusak Lebih Membutuhkan Keselamatan dari Tuhan yang Berinkarnasi” – Kutipan 118

Firman Tuhan adalah kebutuhan hidup kita. Bagikan halaman firman Tuhan harian dengan Anda, ada banyak firman Tuhan di dalamnya. Silakan membaca segera.

Tuhan Yesus yang kita rindukan telah kembali! Apakah Anda ingin memahami penampakan dan pekerjaan Tuhan di akhir zaman? Apakah Anda ingin mendapatkan keselamatan Tuhan pada akhir zaman? Jangan sungkan untuk menghubungi kami.

Lanjutkan membaca ““Manusia yang Rusak Lebih Membutuhkan Keselamatan dari Tuhan yang Berinkarnasi” – Kutipan 118″