Manusia Hanya Dapat Diselamatkan dalam Pengelolaan Tuhan (Kutipan I)

domba

Meskipun pengelolaan Tuhan mungkin tampak sangat besar bagi manusia, tidak berarti pengaturan itu tidak dapat dipahami oleh manusia, karena semua pekerjaan Tuhan berkaitan dengan pengelolaan-Nya, dengan karya keselamatan umat manusia, dan menyangkut kehidupan, penghidupan, dan tujuan hidup umat manusia. Pekerjaan yang Tuhan lakukan di antara dan atas manusia, dapat dikatakan, sangatlah praktis dan bermakna. Pekerjaan itu dapat dilihat oleh manusia, dialami oleh manusia, dan sama sekali tidak abstrak. Lanjutkan membaca “Manusia Hanya Dapat Diselamatkan dalam Pengelolaan Tuhan (Kutipan I)”

Refleksi Matius 5: 6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran

Jesus

Diberkatilah mereka yang lapar dan haus akan kebenaran: karena mereka akan dipuaskan …
(Matius 5:6)

Ajaran dari Tuhan Yesus ini mengingatkan saya pada apa yang dikatakan dalam nubuat Wahyu: “Aku akan memberikan kepada ia yang haus, air dari mata air kehidupan dengan cuma-cuma” (Wahyu 21:6) Barang siapa yang mencari kebenaran dan kelaparan serta kehausan akan kebenaran dapat memperoleh pembekalan air hidup dalam Firman Tuhan, sehingga kehidupan roh mereka dapat dipuaskan. Lanjutkan membaca “Refleksi Matius 5: 6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran”

Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia (Kutipan II)

kehidupan

Tuhan menciptakan dunia ini dan menghadirkan manusia, makhluk hidup yang ke dalamnya dianugerahkan-Nya kehidupan. Kemudian, manusia memiliki orang tua dan kerabat dan tidak sendirian lagi. Sejak pertama kali manusia melayangkan pandangannya ke dunia lahiriah ini, dia telah ditakdirkan untuk berada dalam penetapan Tuhan. Lanjutkan membaca “Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia (Kutipan II)”

Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia (Kutipan I)

matahari

Sejak engkau datang dengan menangis ke dalam dunia ini, engkau mulai melakukan tugasmu. Engkau mulai mengambil peranmu dalam rencana Tuhan dan dalam penetapan Tuhan. Engkau memulai perjalanan hidupmu. Apa pun latar belakangmu dan bagaimanapun perjalanan yang ada di hadapanmu, tak ada seorang pun yang dapat lolos dari penyelenggaraan dan pengaturan yang telah Surga siapkan, dan tak ada seorang pun yang dapat mengendalikan nasibnya, sebab hanya Ia, yang mengatur segala sesuatu, yang dapat melakukan pekerjaan tersebut. Lanjutkan membaca “Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia (Kutipan I)”

Matius 4:19 Apakah perkataan Tuhan Yesus menginspirasi orang Kristen saat in?

Matius 4:19

Dan Dia berkata kepada mereka, Ikuti Aku, dan Aku akan membuat kamu menjadi penjala manusia. (Matius 4:19)

Dari perkataan Tuhan Yesus, kita dapat melihat bahwa harapan dan amanat Tuhan Yesus kepada Petrus dan saudara-saudara yang lain, yaitu menjadi murid Tuhan Yesus, mengkhotbahkan Injil Tuhan Yesus, dan membawa manusia yang dipilih oleh Tuhan kehadapan Tuhan. Lanjutkan membaca “Matius 4:19 Apakah perkataan Tuhan Yesus menginspirasi orang Kristen saat in?”

Memahami cara kedatangan kembali Tuhan

Tuhan Yesus telah kembali

Pertanyaan 2: Engkau memberi kesaksian bahwa Tuhan telah menjadi daging sebagai Anak Manusia untuk melakukan pekerjaan penghakiman pada akhir zaman, tetapi sebagian besar para pendeta dan penatua agama menekankan bahwa Tuhan akan datang kembali di awan-awan, dan mereka terutama mendasarkan hal ini kepada ayat-ayat Alkitab: “Yesus yang sama ini … juga akan datang kembali dengan cara yang sama seperti engkau melihat Dia naik ke surga” (Kisah Para Rasul 1:11). “Lihatlah, Dia datang dengan awan-awan; dan setiap mata akan melihat-Nya” (Wahyu 1:7). Selain itu, para pendeta dan penatua juga mengajarkan kepada kami bahwa Tuhan Yesus yang tidak datang di awan-awan adalah palsu dan harus ditolak. Jadi, kami tidak yakin apakah pandangan ini sesuai dengan Alkitab atau tidak; apakah pemahaman semacam ini benar atau salah?

Jawaban:

Perihal menunggu datangnya Tuhan di awan-awan, jangan bergantung pada gagasan dan imajinasi manusia! Kaum Farisi membuat kesalahan besar dalam menunggu kedatangan Mesias. Mereka memakai gagasan dan imajinasi manusia untuk menilai Tuhan Yesus yang sudah datang. Pada akhirnya, mereka menyalibkan Tuhan Yesus. Apakah ini bukan fakta? Apakah menunggu kedatangan Tuhan sesederhana pemikiran kita? Jika Tuhan kembali dan bekerja di antara manusia, seperti yang Tuhan Yesus lakukan di dalam daging, dan kita tidak mengenali Dia, apakah kita juga akan menghakimi dan mengutuk Dia seperti orang Farisi dan menyalibkan Dia lagi? Apa ini sebuah kemungkinan? Tuhan Yesus bernubuat Dia akan kembali dan berfirman tentang itu, tetapi kita hanya berpegang pada nubuat tentang Tuhan turun dengan awan-awan dan tidak mencari atau menyelidiki nubuatan penting lain yang dikatakan Tuhan. Akibatnya, kita mudah salah jalan dan dibuang oleh Tuhan! Sebenarnya tidak hanya terdapat nubuatan “turun di awan-awan” dalam Alkitab. Ada banyak nubuat lain, seperti Tuhan akan datang bagai pencuri dan kembali diam-diam. Contohnya, Wahyu 16:15, “Lihatlah, Aku datang bagaikan pencuri.” Matius 25:6, “Dan pada tengah malam terdengar teriakan, ‘Lihat, mempelai laki-laki datang; keluarlah menyambutnya’.” Dan Wahyu 3:20 “Lihatlah, Aku berdiri di pintu dan mengetuk: kalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membuka pintu itu, Aku akan datang masuk kepadanya, dan bersantap dengannya, dia bersama-Ku.” Semua nubuat ini mengacu pada Tuhan menjadi daging saat Anak Manusia datang secara rahasia. “Bagaikan pencuri” artinya datang secara diam-diam, rahasia. Tak ada yang tahu bahwa Dia Tuhan meski melihat atau mendengar Dia, seperti dahulu Tuhan Yesus menampakkan diri dan melakukan pekerjaan-Nya selama berinkarnasi sebagai Anak manusia. Dari luar, Tuhan Yesus tampak seperti Anak manusia dan tak ada yang tahu bahwa Dialah Tuhan, itulah sebabnya Tuhan Yesus memakai “bagaikan pencuri“, untuk penampakan dan pekerjaan Anak Manusia. Perumpamaan ini cocok sekali! Siapa yang tidak mengasihi kebenaran, apa pun yang dikatakan dan dikerjakan Tuhan dalam bentuk daging, atau kebenaran yang Dia ungkapkan, mereka tak akan menerimanya. Sebaliknya, mereka memperlakukan Tuhan dalam daging sebagai orang biasa dan mengutuk serta mengabaikan Dia. Itulah sebabnya Tuhan Yesus bernubuat tentang saat kedatangan-Nya kembali: “Karena sama seperti kilat yang memancar dari satu bagian di bawah langit, bersinar sampai ke bagian lain di bawah langit; demikian juga Anak Manusia saat hari kedatangan-Nya tiba. Tetapi pertama-tama Dia harus mengalami berbagai penderitaan dan ditolak oleh generasi ini” (Lukas 17:24-25). Berdasarkan nubuat Tuhan, kedatangan-Nya merupakan “kedatangan Anak Manusia.” “Anak manusia” mengacu pada rupa Tuhan dalam daging, bukan tubuh kemuliaan Tuhan Yesus yang bangkit, turun di awan untuk menampakkan diri secara terbuka di hadapan manusia. Kenapa begitu? Jika tubuh kemuliaan Tuhan Yesus muncul di awan-awan, itu akan sungguh dahsyat dan dunia akan gempar. Semuanya akan berlutut dan tak ada yang berani menentang. Dengan demikian, apakah kedatangan Tuhan Yesus tetap akan melalui penderitaan dan penolakan generasi ini? Sudah pasti tidak! Itulah sebabnya, Tuhan Yesus bernubuat bahwa kedatangan-Nya merupakan “kedatangan Anak manusia” dan “bagaikan pencuri.” Nyatanya, ini mengacu pada inkarnasi Tuhan sebagai Anak manusia yang datang diam-diam.

Apa hubungan antara Anak manusia yang datang secara rahasia dan melakukan pekerjaan-Nya serta Tuhan menampakkan diri secara terbuka dengan turun di awan-awan? Apa saja yang terlibat dalam proses ini? Mari kita bahas dengan singkat. Di akhir zaman, Tuhan berinkarnasi dan datang secara rahasia di antara manusia untuk berbicara dan berfirman, melakukan pekerjaan penghakiman yang dimulai dari rumah Tuhan, menyucikan dan menyempurnakan semua orang yang mendengar suara-Nya dan kembali ke takhta-Nya, dan membentuk mereka menjadi sekelompok pemenang. Kemudian, Tuhan akan mendatangkan bencana besar, memurnikan dan menghajar semua yang menentang penghakiman Tuhan di akhir zaman. Setelah itu, Tuhan akan turun di awan-awan secara terbuka di hadapan semua manusia. Hal itu akan menggenapi nubuat di kitab Wahyu 1:7 “Lihatlah, Dia datang dengan awan-awan; dan setiap mata akan melihat-Nya, juga mereka yang menikam Dia: dan semua orang di bumi akan meratap karena Dia.” Saat turun di awan-awan, orang yang menikam-Nya dapat melihat Dia? Siapa orang yang menikam Dia? Ada yang bilang, mereka yang memaku Tuhan Yesus di kayu salib. Benarkah demikian? Bukankah penyalib Tuhan Yesus sudah lama dikutuk dan dibinasakan Tuhan? Kenyataannya, yang menikam Tuhan adalah mereka yang saat Tuhan berinkarnasi diam-diam di akhir zaman untuk bekerja, tidak mencari suara Tuhan serta menentang Tuhan Yang Mahakuasa. Pada saat itu, mereka akan melihat bahwa Tuhan Yang Mahakuasa yang telah mereka tentang dan kutuk adalah Yesus Sang Juru Selamat yang mereka tunggu dengan getir selama ini. Mereka akan menyesal, menangis, dan mengertakkan gigi. Hanya gadis-gadis bijaksana yang mendengar suara Tuhan yang dapat menyambut kedatangan-Nya, dibawa ke takhta Tuhan, menghadiri pesta kawin Anak Domba, dan disempurnakan menjadi pemenang. Ini menggenapi nubuat dalam Wahyu 14:4: “Mereka adalah orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan; sebab mereka murni. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba ke mana pun Dia pergi. Mereka ditebus dari antara manusia, sebagai buah sulung bagi Tuhan dan Anak Domba.” Orang yang berpegang teguh pada gagasan bahwa Tuhan turun dengan awan-awan, tetapi tidak mencari tahu dan menyelidiki-Nya, akan dianggap gadis-gadis bodoh. Terutama yang menentang dan mengutuk Tuhan Yang Mahakuasa, mereka adalah kaum Farisi dan antikristus yang disingkapkan pada akhir zaman. Merekalah yang menyalibkan Tuhan lagi. Orang-orang ini akan mengalami bencana besar dan dihukum.

Mari lihat cara kaum Farisi menunggu kedatangan Mesias dan alasan mereka menyalibkan Tuhan Yesus. Pada awalnya, kaum Yahudi Farisi punya gagasan dan imajinasi sendiri tentang Mesias. Mereka membaca nubuat Kitab Suci: “Karena bagi kita seorang anak telah dilahirkan, bagi kita seorang putera telah diberikan: dan lambang pemerintahan berada di bahunya” (Yesaya 9:6). “Tetapi engkau, Betlehem Efrata, walaupun engkau yang terkecil di antara ribuan kaum Yehuda, tetapi dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel; yang permulaannya sudah ada sejak dahulu kala, dari awal zaman” (Mikha 5:2). Berdasarkan nubuat Kitab Suci, berbagai khayalan yang sudah lama dianut, dan gagasan tentang kedatangan Mesias, kaum Farisi mengatakan bahwa Tuhan pasti akan disebut Mesias dan terlahir dari keluarga kaya. Terlebih lagi, Dia seperti Daud dan menjadi Raja Israel, memimpin mereka lepas dari penjajahan Romawi. Kebanyakan rakyat Israel berpikir seperti ini. Namun, Tuhan tidak menggenapi nubuat ini sesuai gagasan dan imajinasi manusia, maka orang Farisi pun mencoba menuduh Tuhan Yesus dengan segala cara dan mengutuk serta menghujat-Nya. Meski Tuhan Yesus mengucapkan kebenaran dan melakukan banyak mukjizat, dan sepenuhnya menunjukkan otoritas dan kuasa Tuhan, kaum Farisi tidak peduli seberapa dalam firman Tuhan Yesus atau seberapa besar otoritasNya. Selama tidak sesuai dengan gagasan dan imajinasi mereka, selama Dia tidak terlahir dari keluarga kaya dan penampilan-Nya tidak mulia dan bermartabat, selama nama-Nya bukan Mesias, mereka tetap mengutuk dan menentangnya. Karena membenci kebenaran, mereka menyalibkan Tuhan Yesus, yang mengungkapkan kebenaran dan melakukan pekerjaan penebusan, di kayu salib! Apakah kaum Farisi menjijikkan? Haruskah mereka dikutuk? Dosa kaum Farisi dalam menentang dan mengutuk Tuhan Yesus dengan cara menunjukkan kebencian terhadap kebenaran, itu sifat alami iblis. Ini menunjukkan bahwa hati mereka sesungguhnya bukan menunggu kedatangan Mesias yang menyelamatkan mereka dari dosa, tetapi mereka menantikan Raja orang Yahudi yang akan melepaskan mereka dari kuasa pemerintahan Romawi, sehingga mereka tak usah menderita lagi seperti budak! Mereka percaya akan Tuhan dan menanti-nantikan datangnya Mesias, hanya karena mereka ingin memuaskan keinginan pribadi dan melindungi status mereka. Apa kesalahan yang dilakukan kaum Farisi dalam menunggu kedatangan Mesias? Kenapa mereka dikutuk dan dihukum Tuhan? Ini menarik untuk direnungkan! Kenapa kaum Farisi menentang dan mengutuk Tuhan Yesus saat Dia menampakkan diri untuk melakukan pekerjaan-Nya? Apa sifat dan hakikat yang ditunjukkan oleh kaum Farisi? Inilah yang harus dimengerti oleh orang-orang yang merindukan kedatangan Tuhan. Jika tidak memahami hal-hal ini, dalam menerima kedatangan Tuhan Yesus yang kedua, mungkin saja kita dapat menentang Tuhan seperti kaum Farisi!

Bagaimana cara kaum Farisi menunggu kedatangan Mesias? Kenapa mereka menyalibkan Tuhan Yesus? Apa sumber dari pertanyaan ini, sebenarnya? Mari kita lihat firman Tuhan Yang Mahakuasa! Tuhan Yang Mahakuasa berkata: “Apakah engkau sekalian ingin tahu apa akar masalahnya mengapa orang Farisi menentang Yesus? Apakah engkau sekalian ingin tahu substansi orang-orang Farisi? Mereka penuh dengan khayalan tentang Mesias. Terlebih lagi, mereka hanya percaya bahwa Mesias akan datang, tetapi mereka tidak mencari kebenaran tentang hidup. Jadi, sampai hari ini mereka masih menunggu Mesias, karena mereka tidak memiliki pengetahuan tentang jalan kehidupan, dan tidak tahu apa itu jalan kebenaran. Menurutmu sekalian, bagaimana orang-orang bodoh, keras kepala, dan bebal bisa mendapatkan berkat Tuhan? Bagaimana mereka bisa melihat Mesias? Mereka menentang Yesus, karena mereka tidak mengetahui arah pekerjaan Roh Kudus, karena mereka tidak mengetahui jalan kebenaran yang diucapkan Yesus, dan terlebih lagi, karena mereka tidak memahami Mesias. Karena mereka tidak pernah melihat Mesias, dan tidak pernah bersama-Nya, mereka membuat kesalahan dengan memberikan penghormatan kosong kepada nama Mesias sambil menentang substansi Mesias dengan segala cara. Orang-orang Farisi ini pada hakikatnya keras kepala, sombong, dan tidak mematuhi kebenaran. Prinsip kepercayaan mereka kepada Tuhan adalah: tidak peduli sedalam apa khotbahmu, tidak peduli setinggi apa otoritasmu, Engkau bukan Kristus kecuali jika Engkau disebut Mesias. Bukankah pandangan ini tidak masuk akal dan konyol?” (“Saat Engkau Melihat Tubuh Rohani Yesus adalah Saat Tuhan Menciptakan Langit dan Bumi yang Baru” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Setelah membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa, esensi dan sumber penentangan kaum Farisi terhadap Tuhan Yesus dalam menunggu Mesias seharusnya sudah jelas. Jadi, perihal menerima kedatangan Tuhan, jika manusia bergantung pada gagasan dan imajinasi, menunggu Tuhan turun di awan-awan, bukannya mengejar kebenaran dan mendengar suara Tuhan, sama saja mereka menentang Tuhan seperti kaum Farisi. Maka, apa hasilnya? Sepertinya, semuanya sudah jelas.

Kini injil kerajaan Tuhan Yang Mahakuasa telah tersebar ke seluruh daratan Tiongkok lebih dari 20 tahun. Injil telah diwartakan pada berbagai denominasi. Selama periode ini, karena penindasan dan penangkapan bertubi-tubi oleh PKT. dilengkapi propaganda dari media PKT, Tuhan Yang Mahakuasa merupakan nama yang diketahui semua orang. Nanti, seluruh kebenaran tentang Tuhan Yang Mahakuasa dan berbagai video serta film produksi Gereja Tuhan Yang Mahakuasa yang telah dirilis online akan disebarkan ke seluruh dunia. Aku percaya orang-orang di kalangan agama sudah mendengar tentang berbagai metode kesaksian dari Gereja Tuhan Yang Mahakuasa. Banyak orang bersaksi akan kedatangan Tuhan. Hal ini menggenapi nubuat Tuhan Yesus. “Dan pada tengah malam terdengar teriakan, ‘Lihat, mempelai laki-laki datang; keluarlah menyambutnya’” (Matius 25:6). Lalu kenapa pendeta dan penatua masih mengutuk dan menentang pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa di akhir zaman? Ada banyak nubuat tentang kedatangan Tuhan yang kedua, kenapa mereka sangat yakin pada nubuat tentang Tuhan turun di awan-awan? Kenapa tidak mencari-Nya saat pertama kali mendengar tentang kesaksian kedatangan Tuhan? Kenapa, saat mereka tahu bahwa Tuhan Yang Mahakuasa mengungkapkan kebenaran, dan telah melihat pekerjaan Tuhan, mereka masih saja bersikeras mempertahankan gagasan dan imajinasi mereka serta menentang pekerjaan Tuhan pada akhir zaman? Apakah mereka mencintai kebenaran dan sungguh-sungguh menunggu kedatangan Tuhan? Apakah mereka gadis bijaksana atau gadis bodoh? Jika mereka gadis bijaksana dan menantikan kedatangan Tuhan, kenapa saat mendengar suara Tuhan dan melihat injil kerajaan berkembang pesat, kenapa masih bersikeras mengutuk dan menentang? Inikah bentuk kesungguh-sungguhan mereka dalam menantikan dan mengharapkan penampakan Tuhan? Inikah ungkapan kegembiraan yang sejati akan kedatangan Tuhan yang kedua? Jujur saja, kepercayaan dan penantian mereka akan kembalinya Tuhan Yesus itu palsu. Mereka cuma ingin diberkati dan masuk kerajaan surga! Mereka percaya akan Tuhan bukan untuk mengejar kebenaran dan mendapatkan kehidupan, bukan untuk mendapatkan kebenaran dan meninggalkan dosa. Apa yang paling mereka pedulikan? Saat Tuhan turun untuk membawa mereka masuk kerajaan surga, meninggalkan penderitaan daging, dan menikmati anugerah kerajaan surga. Ini tujuan utama mereka dalam percaya akan Tuhan! Selain ini, kenapa mereka menolak Tuhan Yang Mahakuasa yang mengungkapkan kebenaran untuk menyelamatkan umat manusia? Coba pikirkan. Jika seseorang sungguh-sungguh mencintai kebenaran dan menantikan Tuhan menampakkan diri, apa reaksi mereka saat mendengar tentang kedatangan Tuhan? Tak maukah mereka mendengar, melihat, atau berhubungan dengan peristiwa itu? Akankah mereka menyangkal, mengutuk dan menentang? Tentu tidak! Karena orang yang menantikan penampakan Tuhan dan menyambut kedatangan-Nya menantikan munculnya terang sejati, kejujuran dan kebenaran menguasai hati mereka. Mereka menantikan Tuhan menampakkan diri untuk menyelamatkan umat manusia agar sepenuhnya terlepas dari dosa sehingga disucikan dan didapatkan oleh Tuhan. Namun mereka yang menunggu Tuhan turun di awan-awan tetapi menyangkal dan menolak Tuhan Yang Mahakuasa, terutama para pemimpin agama yang mengutuk dan menentang Dia demi melindungi status dan kehidupan mereka, merekalah orang-orang yang menolak dan membenci kebenaran. Mereka semua adalah umat yang tidak percaya dan antikristus, yang terungkap oleh pekerjaan Tuhan di akhir zaman. Setelah Tuhan dalam rupa manusia menyempurnakan karya penyelamatan-Nya, orang-orang ini akan jatuh ke dalam bencana besar, menangis dan mengertakkan giginya. Maka, nubuat tentang Tuhan turun di awan-awan secara terbuka akan tergenapi. “Lihatlah, Dia datang dengan awan-awan; dan setiap mata akan melihat-Nya, juga mereka yang menikam Dia: dan semua orang di bumi akan meratap karena Dia” (Wahyu 1:7).

Mari perhatikan firman Tuhan Yang Mahakuasa: “Orang-orang yang tidak menerima kebenaran, tetapi dengan membabi buta menantikan kedatangan Yesus di atas awan putih, pasti akan menghujat Roh Kudus, dan merekalah kategori orang yang akan dimusnahkan. Engkau sekalian hanya menginginkan kasih karunia Yesus, dan hanya ingin menikmati alam surgawi yang penuh kebahagiaan, tetapi tidak pernah mematuhi perkataan yang diucapkan Yesus, dan tidak pernah menerima kebenaran yang dinyatakan Yesus saat Ia kembali menjadi daging. Apa yang akan engkau sekalian tunjukkan demi menukar kenyataan bahwa Yesus datang kembali di atas awan putih? Apakah disebut ketulusan jika engkau sekalian terus-menerus berbuat dosa, tetapi kemudian berulang kali mengakuinya? Korban apa yang akan engkau sekalian persembahkan kepada Yesus yang datang kembali di atas awan putih? Apakah itu jerih payah kerjamu selama bertahun-tahun yang justru membuatmu sekalian meninggikan diri? Apa yang akan engkau tunjukkan untuk membuat Yesus yang datang kembali itu percaya kepadamu? Apakah sifat sombongmu, yang tidak mematuhi kebenaran?

… Aku berkata kepada engkau sekalian, mereka yang percaya kepada Tuhan karena mengikuti tanda-tanda pasti tergolong sebagai orang-orang yang akan mengalami kehancuran. Mereka yang tidak mampu menerima perkataan Yesus yang telah kembali menjadi daging pastilah keturunan neraka, keturunan penghulu malaikat, golongan yang akan mengalami kehancuran kekal. Mungkin banyak orang tidak peduli dengan apa yang Aku katakan, tetapi Aku tetap ingin memberi tahu setiap orang yang disebut orang suci yang mengikuti Yesus bahwa, ketika engkau sekalian melihat Yesus turun dari surga di atas awan putih dengan matamu sendiri, itu akan menjadi penampakan terbuka dari Sang Matahari kebenaran. Barangkali itu akan menjadi saat yang sangat menyenangkan bagimu, tetapi ketahuilah bahwa saat engkau menyaksikan Yesus turun dari surga, saat itulah engkau turun ke neraka untuk dihukum. Itulah tanda berakhirnya rencana pengelolaan Tuhan, dan saatnya Tuhan memberi upah kepada orang baik dan menghukum yang jahat. Penghakiman Tuhan akan berakhir sebelum manusia melihat tanda-tanda, ketika hanya ada pengungkapan kebenaran. Mereka yang menerima kebenaran dan tidak mencari tanda-tanda, sehingga mereka disucikan, akan kembali ke hadapan takhta Tuhan dan masuk ke dalam pelukan Sang Pencipta. Hanya mereka yang bersikeras percaya bahwa ‘Yesus yang tidak datang kembali di atas awan putih adalah Kristus palsu’ akan menerima hukuman abadi, karena mereka hanya percaya kepada Yesus yang menunjukkan tanda-tanda, tetapi tidak mengakui Yesus yang mengumumkan penghakiman yang berat dan menunjukkan jalan kehidupan yang sebenarnya. Jadi, hanya dengan cara itulah Yesus menangani mereka pada saat Ia secara terbuka datang kembali di atas awan putih. Mereka terlalu keras kepala, terlalu percaya diri, terlalu sombong. Bagaimana mungkin orang-orang yang tidak berakhlak itu bisa diberi upah oleh Yesus?

Dikutip dari “Pertanyaan dan Jawaban Klasik mengenai Injil Kerajaan”

Ketika Tuhan Yesus mengetuk pintu, apakah Anda membuka pintu hati Anda? Artikel ini akan memberi tahu Anda bagaimana menyambut Tuhan Yesus.

Tuhan Mengendalikan Nasib Seluruh Umat Manusia (Kutipan III)

Gadis Bijaksana

Coba ingatlah peristiwa di dalam Alkitab ketika Tuhan melakukan penghancuran atas Sodom, dan renungkan juga bagaimana istri Lot menjadi tiang garam. Coba ingat kembali bagaimana orang Niniwe bertobat dari dosa-dosa mereka dengan mengenakan kain kabung dan abu, dan ingatlah peristiwa apa yang terjadi setelah orang Yahudi memakukan Yesus di kayu salib 2.000 tahun yang lalu. Lanjutkan membaca “Tuhan Mengendalikan Nasib Seluruh Umat Manusia (Kutipan III)”

Tuhan Mengendalikan Nasib Seluruh Umat Manusia (Kutipan II)

Kecantikan

Sejak manusia mulai memiliki ilmu-ilmu sosial, pikiran manusia dipenuhi dengan ilmu dan pengetahuan. Lalu, ilmu dan pengetahuan menjadi alat yang digunakan untuk memerintah umat manusia, sehingga tidak ada lagi ruang yang cukup bagi manusia untuk menyembah Tuhan, dan tidak ada lagi suasana yang mendukung penyembahan kepada Tuhan. Kedudukan Tuhan turun semakin jauh di dalam hati manusia. Dunia dalam hati manusia yang tidak memiliki tempat untuk Tuhan adalah gelap, kosong, dan tanpa pengharapan. Lalu, muncullah banyak ilmuwan sosial, ahli sejarah, dan politisi yang mengungkapkan teori-teori ilmu sosial, teori evolusi manusia, serta teori-teori lainnya yang bertentangan dengan kebenaran bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk memenuhi hati dan pikiran manusia. Dengan demikian, jumlah orang yang percaya bahwa Tuhan yang menciptakan segalanya itu menjadi semakin sedikit, sementara orang yang percaya pada teori evolusi menjadi semakin banyak jumlahnya. Semakin lama semakin banyak orang yang menganggap catatan tentang pekerjaan Tuhan dan firman-Nya pada zaman Perjanjian Lama sebagai mitos dan Dongeng. Di dalam hati mereka, orang menjadi acuh tak acuh pada martabat dan kebesaran Tuhan, pada prinsip bahwa Tuhan itu ada dan berkuasa atas segala hal. Kelangsungan umat manusia dan nasib negara-negara serta bangsa-bangsa tidak penting lagi bagi mereka. Manusia hidup dalam dunia hampa yang hanya mengurusi makan, minum, dan mengejar kesenangan. … Hanya sedikit orang yang menyadari kewajibannya untuk menyelidiki tempat Tuhan melakukan pekerjaan-Nya saat ini atau mencari tahu bagaimana Ia mengendalikan dan mengatur tempat tujuan manusia. Dengan demikian, tanpa diketahui manusia, peradaban manusia tanpa disadari menjadi semakin tak mampu berjalan sesuai keinginan-keinginan manusia. Bahkan banyak orang merasa bahwa, dengan hidup di dunia seperti ini, mereka tidak lebih bahagia dibandingkan orang-orang yang sudah meninggal. Orang-orang yang berasal dari negara-negara yang tadinya berperadaban tinggi pun mengutarakan keluhan seperti ini. Tanpa tuntunan Tuhan, berapa banyak pun penguasa dan ahli sosiologi yang memutar otak mereka untuk melestarikan peradaban manusia, semuanya sia-sia saja. Tidak seorang pun dapat mengisi kekosongan dalam hati manusia sebab tidak seorang pun dapat menjadi hidup manusia, dan tidak ada teori sosial yang dapat membebaskan manusia dari kekosongan yang dideritanya. Ilmu, pengetahuan, kebebasan, demokrasi, kesenangan, hiburan, semuanya ini hanyalah penundaan sementara. Bahkan dengan semuanya ini, manusia tanpa terelakkan pasti akan berdosa dan meratapi ketidakadilan yang ada di masyarakat. Hal-hal ini tidak dapat mengekang keinginan dan hasrat manusia untuk mencari, karena manusia diciptakan oleh Tuhan dan pengorbanan serta pencarian manusia yang sia-sia hanya akan membawa manusia pada semakin banyak kesedihan. Manusia akan terus-menerus berada dalam ketakutan, tidak akan tahu bagaimana cara menghadapi masa depan umat manusia, atau bagaimana cara menghadapi perjalanan yang ada di depannya. Manusia akhirnya akan merasa takut terhadap ilmu dan pengetahuan, dan bahkan lebih takut lagi terhadap rasa kosong yang ada di dalam dirinya. Di dunia ini, terlepas dari engkau tinggal di negara yang menganut kebebasan ataupun negara yang tidak mengakui hak asasi manusia, engkau sama sekali tak dapat meluputkan diri dari nasib umat manusia. Baik engkau yang memerintah ataupun yang diperintah, engkau sama sekali tidak dapat melepaskan diri dari keinginan untuk menyelidiki nasib, misteri, dan tempat tujuan umat manusia. Apalagi melepaskan diri engkau dari perasaan kosong yang meresahkan. Fenomena seperti ini, yang lazim dialami oleh semua umat manusia, disebut fenomena sosial oleh para ahli sosiologi, tetapi belum ada satu pun orang hebat yang mampu memecahkan masalah tersebut. Manusia, bagaimana pun juga, hanyalah manusia. Kedudukan dan kehidupan Tuhan tidak dapat digantikan oleh siapa pun. Umat manusia bukan hanya memerlukan masyarakat yang adil, tempat setiap orang mendapat cukup makanan dan diperlakukan dengan setara serta mendapat kebebasan, tetapi juga keselamatan Tuhan dan perbekalan-Nya atas kehidupan mereka. Hanya ketika manusia menerima keselamatan Tuhan dan perbekalan-Nya atas kehidupan mereka, barulah kebutuhan, keinginan mencari, dan kekosongan rohani manusia dapat terpenuhi. Jika rakyat suatu negara atau suatu bangsa tidak dapat menerima keselamatan dan pemeliharaan Tuhan, maka negara atau bangsa seperti itu akan berada di jalan menuju kehancuran, menuju kegelapan, dan akan dimusnahkan oleh Tuhan.
Mungkin negara engkau saat ini makmur, tetapi bila engkau biarkan rakyat engkau menyimpang dari Tuhan, negara engkau dengan sendirinya akan semakin kehilangan berkat-berkat Tuhan. Peradaban negara engkau akan semakin terinjak-injak, dan tak lama kemudian, rakyat akan bangkit melawan Tuhan dan mengutuk Surga. Demikianlah, nasib suatu negara tanpa sadar akan dibawa pada kehancuran. Tuhan akan membangkitkan negara-negara yang berkuasa untuk menangani negara-negara yang telah dikutuk Tuhan, dan bahkan mungkin menghapuskan mereka dari muka bumi. Kebangkitan dan kejatuhan suatu negara atau bangsa dilandaskan pada apakah penguasanya menyembah Tuhan, dan apakah mereka mengarahkan rakyatnya untuk mendekat kepada Tuhan dan menyembah-Nya. Namun, di akhir zaman ini, karena orang yang sungguh-sungguh mencari dan menyembah Tuhan semakin jarang, Tuhan melimpahkan perkenanan khusus pada negara-negara yang menjadikan Kristen sebagai agama negara. Ia mengumpulkan mereka untuk membentuk kumpulan yang relatif benar di dunia, sementara negara-negara ateis atau orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang benar menjadi lawan terhadap kumpulan yang benar ini. Dengan demikian, Tuhan bukan hanya mendapat tempat di tengah-tengah umat manusia untuk melakukan pekerjaan-Nya, tetapi juga mendapatkan negara-negara yang dapat menjalankan otoritas benar untuk menjatuhkan sanksi dan pembatasan pada negara-negara yang menentang Tuhan. Namun demikian, orang yang datang menghadap untuk menyembah Tuhan tetap tidak bertambah banyak, karena manusia sudah terlalu jauh menyimpang dari-Nya, dan Tuhan sudah terlalu lama tidak hadir dalam pikiran manusia. Jadi, yang tersisa di bumi hanyalah negara-negara yang mengerjakan kebenaran dan menentang ketidakbenaran. Namun, hal ini jauh dari keinginan Tuhan, sebab tidak ada penguasa negara yang akan mengizinkan Tuhan memimpin atas rakyatnya, dan tidak ada partai politik yang akan mengumpulkan rakyatnya untuk menyembah Tuhan. Tuhan telah kehilangan tempatnya yang sah di hati setiap negara, bangsa, kelompok yang memerintah, dan bahkan di hati setiap orang. Meskipun kekuatan benar memang ada di dunia ini, pemerintahan yang tidak memberi tempat bagi Tuhan di hati manusia sifatnya rapuh. Tanpa berkat Tuhan, arena politik akan masuk ke dalam kehancuran dan menjadi rentan terhadap serangan. Bagi umat manusia, berada dalam keadaan tanpa berkat Tuhan sama seperti tidak mendapat sinar matahari. Tak peduli betapa tekun pemerintah berusaha memberikan kontribusi kepada rakyatnya, terlepas dari berapa banyak pertemuan untuk kebenaran diadakan oleh umat manusia, tidak satu pun upaya ini akan membalikkan atau mengubah nasib umat manusia. Manusia beranggapan bahwa sebuah negara yang rakyatnya mendapat cukup makanan dan pakaian, yang hidup bersama dengan damai, adalah negara yang baik dan memiliki kepemimpinan yang baik. Namun, Tuhan tidak berpikir demikian. Ia beranggapan bahwa sebuah negara yang di dalamnya tidak ada satu orang pun yang menyembah Dia adalah negara yang akan dimusnahkan-Nya. Cara berpikir manusia sangat bertentangan dengan cara berpikir Tuhan. Bila seorang kepala negara tidak menyembah Tuhan, nasib negaranya akan tragis, dan negara itu tidak akan memiliki tempat tujuan.

Roma

Tuhan tidak ikut campur dalam politik manusia, namun nasib suatu negara atau bangsa dikendalikan oleh Tuhan. Tuhan mengendalikan dunia ini dan seluruh alam semesta. Nasib manusia dan rencana Tuhan sangat erat berkaitan, dan tidak ada manusia, negara, atau bangsa yang terlepas dari kedaulatan Tuhan. Jika manusia ingin mengetahui nasibnya, dia harus datang ke hadapan Tuhan. Tuhan akan membuat orang-orang yang mengikuti dan menyembah-Nya menjadi berhasil, dan akan membuat orang-orang yang menentang dan menolak-Nya menjadi mundur dan binasa.

Tidak peduli sesibuk apa pun kehidupan dan pekerjaan Anda sehari-hari, Anda tidak boleh lupa mendekati Tuhan, renungan harian online akan membantu Anda memasuki kehidupan rohani yang normal.

Tuhan Mengendalikan Nasib Seluruh Umat Manusia (Kutipan I)

Kecantikan

Tuhan menciptakan dunia ini. Ialah yang menciptakan umat manusia, dan bahkan Ialah perancang kebudayaan Yunani kuno dan peradaban manusia. Hanya Tuhan yang menghibur umat manusia dan hanya Tuhan yang peduli pada umat manusia ini siang dan malam. Perkembangan dan kemajuan manusia tidak dapat dipisahkan dari kedaulatan Tuhan, dan sejarah serta masa depan umat manusia berkaitan erat dengan rancangan-rancangan Tuhan. Lanjutkan membaca “Tuhan Mengendalikan Nasib Seluruh Umat Manusia (Kutipan I)”

Cara menyambut kedatangan Tuhan Yesus sebelum bencana

yesus mengetuk pintu

Sebenarnya, tidak sulit untuk menemukan Alkitab dengan hati-hati. Mengenai nubuat tentang kedatangan Tuhan Yesus, selain Tuhan Yesus datang dengan awan, itu juga memiliki nubuat tentang Tuhan datang secara rahasia, seperti: “Lihatlah, Aku datang bagaikan pencuri. ” (Wahyu 16:15) “Karena itu hendaklah engkau berjaga-jaga: sebab Anak Manusia akan datang pada waktu yang tidak engkau duga“(Matius 24:44) Lanjutkan membaca “Cara menyambut kedatangan Tuhan Yesus sebelum bencana”